Breaking News
Sabtu, 13 Juni 2026

Opini

Opini: Raja Ludwig II dan Pelajaran Tentang Kekuasaan

Kekuasaan dibentuk, dibatasi, sekaligus diperkuat oleh relasi sosial yang menghubungkannya dengan masyarakat. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI VINCENT ADI G. MEKA
Vincent Adi GM 

Oleh: Vincent Adi GM
Dosen dan peneliti di Anthropos Institut, Jerman.

POS-KUPANG.COM - Ludwig II adalah raja Bavaria yang bertakhta selama sekitar 22 tahun (1864–1886). 

Ia terkenal karena mencintai seni, musik, dan fantasi. Karenanya ia mengagumi karya-karya Richard Wagner dan berusaha menerjemahkan dunia imajinasinya ke dalam batu, menara, dan ruang-ruang istana yang megah. 

Seiring waktu, sang raja semakin menjauh dari kehidupan publik. Ia menghindari pertemuan resmi, mengurangi interaksi dengan para pejabat, dan lebih banyak hidup dalam kesendirian. 

Keputusan-keputusannya semakin tidak masuk akal. Misalnya pada abad ke-19 ia memerintahkan pembangunan kastil-kastil megah yang kini menjadi ikon Jerman. 

Yang paling terkenal adalah Neuschwanstein Castle, bangunan bak negeri dongeng yang setiap tahun menarik jutaan wisatawan dari seluruh dunia. 

Baca juga: Opini: Mengurai Benang Kusut Dilema Penerimaan Mahasiswa Baru

Pada masanya, kemegahan itu tidak dipandang sebagai warisan budaya, melainkan sebagai simbol kerancuan perencanaan publik sang raja serta pemborosan yang menguras keuangan negara. Karenanya negara hampir saja bangkrut. 

Hingga kini para sejarawan masih memperdebatkan kondisi kejiwaan Ludwig II. Namun satu hal relatif jelas: penilaian medis yang menjadi dasar pelengserannya tidak dapat dipisahkan dari pertarungan politik di sekeliling takhta Bavaria

Dalam arti tertentu, keterasingan sang raja tidak hanya menjauhkannya dari rakyat, tetapi juga membuatnya semakin rentan terhadap manuver mereka yang berbicara atas nama kewarasan dan kepentingan negara. 

Tampak dari kisah ini, bagaimana kekuasaan dapat kehilangan cermin yang memantulkan realitas.

Kekuasaan, realitas, dan relasi sosial

Filsuf politik Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa politik hanya dapat hidup dalam apa yang ia sebut space of appearance, yakni ruang tempat manusia saling melihat, mendengar, dan menguji pengalaman mereka secara bersama-sama. 

Politik bukan sekadar soal memerintah, melainkan soal hadir di hadapan orang lain dan mempertanggungjawabkan keputusan dalam kehidupan bersama. 

Namun ketika seorang pemimpin terputus dari ruang bersama tersebut, ia tidak lagi mengambil keputusan berdasarkan realitas yang dialami banyak orang, melainkan berdasarkan realitas yang dibentuk oleh lingkaran yang semakin sempit. 

Dunia sosial yang kompleks perlahan digantikan oleh dunia yang lebih nyaman, lebih terkendali, tetapi juga lebih rapuh terhadap kekeliruan.

Antropolog Marilyn Strathern memperkenalkan gagasan tentang dividual personhood, yakni pandangan bahwa manusia pada dasarnya adalah kumpulan relasi. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved