Opini
Opini: Raja Ludwig II dan Pelajaran Tentang Kekuasaan
Kekuasaan dibentuk, dibatasi, sekaligus diperkuat oleh relasi sosial yang menghubungkannya dengan masyarakat.
Oleh: Vincent Adi GM
Dosen dan peneliti di Anthropos Institut, Jerman.
POS-KUPANG.COM - Ludwig II adalah raja Bavaria yang bertakhta selama sekitar 22 tahun (1864–1886).
Ia terkenal karena mencintai seni, musik, dan fantasi. Karenanya ia mengagumi karya-karya Richard Wagner dan berusaha menerjemahkan dunia imajinasinya ke dalam batu, menara, dan ruang-ruang istana yang megah.
Seiring waktu, sang raja semakin menjauh dari kehidupan publik. Ia menghindari pertemuan resmi, mengurangi interaksi dengan para pejabat, dan lebih banyak hidup dalam kesendirian.
Keputusan-keputusannya semakin tidak masuk akal. Misalnya pada abad ke-19 ia memerintahkan pembangunan kastil-kastil megah yang kini menjadi ikon Jerman.
Yang paling terkenal adalah Neuschwanstein Castle, bangunan bak negeri dongeng yang setiap tahun menarik jutaan wisatawan dari seluruh dunia.
Baca juga: Opini: Mengurai Benang Kusut Dilema Penerimaan Mahasiswa Baru
Pada masanya, kemegahan itu tidak dipandang sebagai warisan budaya, melainkan sebagai simbol kerancuan perencanaan publik sang raja serta pemborosan yang menguras keuangan negara. Karenanya negara hampir saja bangkrut.
Hingga kini para sejarawan masih memperdebatkan kondisi kejiwaan Ludwig II. Namun satu hal relatif jelas: penilaian medis yang menjadi dasar pelengserannya tidak dapat dipisahkan dari pertarungan politik di sekeliling takhta Bavaria.
Dalam arti tertentu, keterasingan sang raja tidak hanya menjauhkannya dari rakyat, tetapi juga membuatnya semakin rentan terhadap manuver mereka yang berbicara atas nama kewarasan dan kepentingan negara.
Tampak dari kisah ini, bagaimana kekuasaan dapat kehilangan cermin yang memantulkan realitas.
Kekuasaan, realitas, dan relasi sosial
Filsuf politik Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa politik hanya dapat hidup dalam apa yang ia sebut space of appearance, yakni ruang tempat manusia saling melihat, mendengar, dan menguji pengalaman mereka secara bersama-sama.
Politik bukan sekadar soal memerintah, melainkan soal hadir di hadapan orang lain dan mempertanggungjawabkan keputusan dalam kehidupan bersama.
Namun ketika seorang pemimpin terputus dari ruang bersama tersebut, ia tidak lagi mengambil keputusan berdasarkan realitas yang dialami banyak orang, melainkan berdasarkan realitas yang dibentuk oleh lingkaran yang semakin sempit.
Dunia sosial yang kompleks perlahan digantikan oleh dunia yang lebih nyaman, lebih terkendali, tetapi juga lebih rapuh terhadap kekeliruan.
Antropolog Marilyn Strathern memperkenalkan gagasan tentang dividual personhood, yakni pandangan bahwa manusia pada dasarnya adalah kumpulan relasi.
Vincent Adi GM
Raja Ludwig II
Istana Raja Ludwig of Bavaria di Munchen
Bavaria
mabuk kekuasaan
Kekuasaan
penyalahgunaan kekuasaan
Opini Pos Kupang
Anthropos Institut Jerman
| Opini - Ketika Allah Menjadi Dalit: Menemukan Sang Ilahi dalam Jeritan Kaum Tertindas |
|
|---|
| Opini - Nilai Sinodalitas dan Ekspresi Iman Kristiani dalam Tradisi Tuku Badut Desa Silawan Belu |
|
|---|
| Opini - Eklesiologi Kontekstual dalam Media dan Realitas: Tantangan atau Peluang |
|
|---|
| Opini: Mengurai Benang Kusut Dilema Penerimaan Mahasiswa Baru |
|
|---|
| Opini - Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Human Trafficking di NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Vincent-Adi-GM-03.jpg)