Opini
Opini - Nilai Sinodalitas dan Ekspresi Iman Kristiani dalam Tradisi Tuku Badut Desa Silawan Belu
Tuku Badut di Desa Silawan, juga menjadi bukti nyata iman yang hidup yang sudah ada dan dijalankan turun temurun.
Opini - Nilai Sinodalitas dan Ekspresi Iman Kristiani dalam Tradisi Tuku Badut Desa Silawan Belu
Oleh: Alexander Fuin
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Sebuah tradisi apabila disatukan dengan iman sungguh sangat kaya akan nilai–nilai hidup, sebab tradisi menjadi wadah bagi iman.
Selagi tradisi itu tidak bertentangan dengan prinsip kebenaran dan ajaran Kristus yaitu kasih, keadilan dan kemulian Allah. Iman dan tradisi adalah dua dimensi yang tak terpisahkan dalam kehidupan umat beriman.
Keduanya mengakar dan menyatu dalam membentuk kehidupan iman beragama dan identitas umat itu sendiri. Jika iman sudah dihayati, dihidupi dan disatukan dalam kehidupan umat maka iman itu akan berbuah dengan subur.
Iman akan Kristus sudah diinkulturasikan dalam budaya umat, alangkah baiknya jika tradisi atau budaya umat yang dilakukan bersumber dan mengarah kepada iman akan Kristus itu sendiri.
Sebab ada nilai–nilai rohani dalam warisan budaya dari leluhur yang bermakna dan bernilai. Maka dalam tradisi Tuku Badut di Desa Silawan, juga menjadi bukti nyata iman yang hidup yang sudah ada dan dijalankan turun temurun dalam kehidupan umat masyarakat Desa Silawan.
Tuku Badut Adalah sebagai salah satu tradisi di masyarakat Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan tradisi kumpul keluarga.
Secara etimologis istilah Tuku Badut berasal dari bahasa Tetum, dari dua kata yaitu Tuku artinya memukul atau memecahkan dan Badut artinya buah kemiri yang secara harfiah artinya adalah memecahkan kemiri atau bersama–sama memecahkan buah kemiri.
Tidak ada catatan sejarah tertulis yang menceritakan mengenai Tuku Badut akan tetapi Tuku badut itu sendiri bertujuan untuk mendukung dan membantu suatu keluarga yang sedang kesulitan masalah ekonomi, kedukaan, pendidikan maupun mengenai pemberian mahar (belis) kepada mempelai wanita yang ada dalam masyarakat Desa Silawan.
Tradisi Tuku Badut sudah ada dan dihidupi dari jaman para leluhur yang melibatkan tokoh adat untuk membahas dan menyelesaikan persoalan–persoalan suku maupun keluarga besar.
Akan tetapi dalam perkembangan zaman, budaya atau tradisi Tuku Badut telah mencakup suatu lingkup yang lebih besar bukan hanya sebatas satu rumah suku saja tetapi melibatkan seluruh masyarakat Desa Silawan bahkan di luar masyarakat Desa Silawan.
Tuku Badut merupakan wujud nyata dari semangat sinodalitas yaitu berjalan bersama. Masyarakat berpartisipasi saling bahu membahu dalam membantu suatu keluarga dalam menyelesaikan persoalan–persoalan terkait finansial.
Hal ini membuat tradisi Tuku Badut menjadi bagian integral budaya yang utuh yang terus menerus dilestarikan. Maka terbentuklah sinodalitas kekeluargaan sebagai bentuk partisipasi membantu satu sama lain dengan memberi dan menerima, yang mencerminkan nilai–nilai sosial dan budaya yang mendalam termasuk di dalamnya adalah kebersamaan, kepedulian, tanggung jawab sosial, gotong royong yang mempererat hubungan kekeluargaan.
Masyarakat Desa Silawan sangat menjunjung tinggi nilai gotong royong dan solidaritas, terutama dalam menghadapi peristiwa–peristiwa penting baik suka maupun duka.
Tuku Badut
kumpul keluarga
Desa Silawan
Kecamatan Tasifeto Timur
Kabupaten Belu
Nusa Tenggara Timur
Opini - Nilai Sinodalitas dan Ekspresi Iman Kristi
Alexander Fuin
POS-KUPANG.COM
| Opini - Eklesiologi Kontekstual dalam Media dan Realitas: Tantangan atau Peluang |
|
|---|
| Opini: Mengurai Benang Kusut Dilema Penerimaan Mahasiswa Baru |
|
|---|
| Opini - Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Human Trafficking di NTT |
|
|---|
| Opini - Relevansi Teologi Minjung bagi Indonesia Masa Kini |
|
|---|
| Opini: Dari Miangas hingga Rote, Kita Bersorak untuk Dunia Bukan untuk Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Alexander-Fuin-01okok.jpg)