Opini
Opini - Ketika Allah Menjadi Dalit: Menemukan Sang Ilahi dalam Jeritan Kaum Tertindas
Teologi Dalit mengingatkan bahwa Allah tidak dapat dipisahkan dari perjuangan kemanusiaan.
Opini - Ketika Allah Menjadi Dalit: Menemukan Sang Ilahi dalam Jeritan Kaum Tertindas
Oleh: Syrrilus Derry Mano
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Selama ini banyak orang membayangkan Allah sebagai sosok yang agung, berkuasa, dan dekat dengan mereka yang berada di puncak kehidupan.
Allah sering dipersepsikan hadir dalam kemegahan gedung-gedung ibadah, dalam keberhasilan ekonomi, atau dalam simbol-simbol kekuasaan yang mengesankan.
Tanpa disadari, cara pandang seperti ini dapat menjauhkan Allah dari realitas kehidupan mereka yang miskin, tertindas, dan tersingkir dari arus utama masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, Teologi Dalit hadir sebagai sebuah suara profetis yang menggugat cara kita memahami Allah. Berangkat dari pengalaman kaum Dalit di India kelompok yang selama berabad-abad mengalami diskriminasi dan penindasan akibat sistem kasta teologi ini mengajak kita melihat Allah dari perspektif mereka yang berada di pinggiran sejarah.
Teologi Dalit tidak berbicara tentang Allah dari ruang-ruang akademik yang nyaman, melainkan dari luka, air mata, dan perjuangan hidup kaum tertindas.
Bagi kaum Dalit, pertanyaan tentang Allah bukanlah persoalan abstrak. Mereka bertanya: di manakah Allah ketika manusia diperlakukan tidak manusiawi? Di manakah Allah ketika martabat seseorang diinjak-injak hanya karena kelahirannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini melahirkan sebuah kesadaran teologis bahwa Allah yang sejati bukanlah Allah yang diam menyaksikan penderitaan manusia.
Sebaliknya, Allah hadir di tengah mereka yang terluka dan berjuang bersama mereka yang ditindas.
Dalam terang iman Kristen, pengalaman itu menemukan maknanya dalam diri Yesus Kristus. Yesus tidak lahir di istana, tidak dibesarkan dalam lingkungan elite agama maupun politik.
Ia lahir dalam kesederhanaan, hidup di tengah rakyat kecil, dan menghabiskan pelayanan-Nya bersama orang-orang yang dipinggirkan oleh masyarakat.
Ia menyentuh orang kusta yang dijauhi, menerima pemungut cukai yang dibenci, dan memulihkan martabat perempuan yang direndahkan.
Kehidupan-Nya menunjukkan bahwa Allah memilih hadir di antara mereka yang dianggap tidak berharga oleh dunia. Puncak solidaritas Allah dengan manusia tampak dalam peristiwa salib.
Salib bukan sekadar simbol penderitaan, melainkan simbol keberpihakan Allah kepada korban ketidakadilan. Yesus mengalami penghinaan, penolakan, dan kekerasan yang biasa dialami oleh kelompok-kelompok tertindas.
| Opini - Nilai Sinodalitas dan Ekspresi Iman Kristiani dalam Tradisi Tuku Badut Desa Silawan Belu |
|
|---|
| Opini - Eklesiologi Kontekstual dalam Media dan Realitas: Tantangan atau Peluang |
|
|---|
| Opini: Mengurai Benang Kusut Dilema Penerimaan Mahasiswa Baru |
|
|---|
| Opini - Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Human Trafficking di NTT |
|
|---|
| Opini - Relevansi Teologi Minjung bagi Indonesia Masa Kini |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Syrrilus-Derry-Mano-01okay.jpg)