Opini
Opini: Ketika Kampus Menghadirkan Dapur MBG
Reformasi 1998 tidak lahir dari universitas yang patuh. Demokrasi tidak tumbuh dari ruang akademik yang sibuk menyenangkan negara.
Dalam konteks kampus, kritik tidak selalu mati karena dilarang. Kritik bisa mati karena semua orang terlalu sibuk menjaga akses dan hubungan baik dengan kekuasaan.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa bangsa besar tidak lahir dari kampus yang jinak. Reformasi 1998 tidak lahir dari universitas yang patuh. Demokrasi tidak tumbuh dari ruang akademik yang sibuk menyenangkan negara.
Ia lahir dari kampus yang berani menggugat, mahasiswa yang berani melawan, dan intelektual yang menolak tunduk pada kenyamanan institusional.
Karena itu, MBG di kampus perlu dibaca sebagai alarm awal. Hari ini dapur masuk kampus atas nama gizi.
Besok narasi pembangunan bisa masuk ruang kuliah atas nama edukasi publik. Lusa universitas dapat berubah menjadi mesin legitimasi politik negara.
Jika itu terjadi, kampus bukan lagi benteng peradaban. Ia telah berubah menjadi “badut” kekuasaan: tampil riuh di depan publik, tetapi diam-diam mengubur martabat intelektualnya sendiri. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Apolonius-Anas-06.jpg)