Opini
Opini - Gejala Dunia Modern: Fenomena Triumfalisme yang Mengancam Toleransi di NTT
NTT merupakan daerah yang sangat menjunjung tinggi toleransi dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satunya adalah aspek agama.
Opini - Gejala Dunia Modern : Fenomena Triumfalisme yang Mengancam Toleransi di NTT
Oleh: Fr. Irenius Andika Tutu
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan daerah yang sangat menjunjung tinggi toleransi dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satunya adalah aspek agama.
Agama di NTT hidup berdampingan dan juga saling membantu. Terdapat beberapa contoh ketika suatu agama merayakan hari raya, maka agama lain akan membantu dengan menjaga keamanan atau membantu dengan berbagai sumbangan guna melancarkan dan hari raya tersebut.
Namun, kini situasi mulai berbalik ketika masing-masing mulai mempertahankan diri atau menonjolkan diri paling baik dan benar atau juga merasa yang lain rendah sehingga dengan berbagai cara mau menyingkirkan lain.
Sikap seperti ini rupanya mengancam toleransi yang tentunya bersifat merusak nilai luhur di daerah NTT yang terkenal akan budaya toleransi yang tinggi.
Banyak agama, budaya dan berbagai aspek lainnya saling menunjukkan sikap itu atau dengan kata lain sikap triumfalisme yang kelihatan memorakporandakan kehidupan masyarakat NTT.
Istilah triumfalisme secara etimologi berasal dari kata bahasa Latin yaitu triumphus, yang berarti kemenangan besar, arak-arakan kemenangan, dan kejayaan.
Kemudian dalam perkembangan selanjutnya dalam bahasa inggris disebut triumphal dan dalam bahasa Indonesia disebut triumfal.
Dengan demikian, term triumfalisme adalah paham atau doktrin yang terlalu menonjolkan kemenangan, kejayaan, superioritas, dan kebebasan diri.
Hal ini diperparah dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketika teknologi yang adalah hasil ciptaan manusia yang paling bagus justru sekarang bukan digunakan untuk kebaikan bersama (bonum comune), tetapi dialihkan fungsinya sebagai alat pembuktian eksistensi masing-masing.
Fenomena triumfalisme ini semakin ganas dan membahayakan pada zaman sekarang yakni dengan gencarnya penggunaan media sosial (Facebook, WhatsApp, Tiktok, Instagram, YouTube dan lainnya).
Hal ini mengancam toleransi di NTT sebagai nilai luhur yang sudah ada dan yang telah dirawat serta dilestarikan turun-temurun.
Fenomena triumfalisme ini tidak baik dan berakibat memecahkan, maka sudah dilawan juga dalam Kitab Suci agama Kristen khususnya Injil Markus 9:38-41 dan Injil 9:49-50.
Kisah suci dalam Kitab Suci agama Kristen ini menunjukkan sikap triumfalisme dari para murid Yesus, ketika mereka melihat orang yang bukan bagian dari mereka berbuat selaras dengan kebenaran tetapi dianggap tidak benar oleh karena orang itu bukan bagian dari mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Fr-Irenius-Andika-Tutu-ok.jpg)