Rabu, 20 Mei 2026

Opini

Opini: Pesta Babi- Bising bagi Mereka, Hidup bagi Kami

Saya mengakhiri ini dengan pertanyaan praktis: Apa yang harus kita lakukan setelah menonton film ini?

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARIANUS VIKTOR UKAT
Marianus Viktor Ukat 

Oleh: Marianus Viktor Ukat 
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale mengandung suatu keheningan yang dipaksakan dan mendengarkan menjadi tindakan politis yang paling subversif. 

Demikian, saya ingin memulai dengan hal yang sederhana namun fundamental: Ada orang yang tidak didengar sehingga kehidupan itu dianggap remeh. 

Kalimat ini bukan hanya mereka yang kekurangan suara, tetapi mereka yang suaranya tidak dihitung sebagai suara sama sekali. 

Dalam sistem pemerintahan, suara adat Papua adalah kebisingan, yakni keributan yang mengganggu, hambatan yang harus ditekan, atau bahkan diabaikan sepenuhnya. 

Baca juga: Opini: Pesta Babi dan Sikap Kristen di Tengah Krisis Sosial Politik

Film dokumenter Pesta Babi yang berkolaborasi dengan Jubi.id, Watchdoc, Pusaka Bentala Rakyat, Ekspedisi Indonesia Baru, serta dukungan dari Greenpeace dan LBH Papua Merauke, adalah sebuah keberatan terhadap dikotomi ini. 

Dalam bahasa tragedi, film ini mau mengatakan “tidak” dan memaksa untuk didengarkan. 

Ada suara yang mengandung nilai dan makna, tetapi sengaja ditutup agar kebisingan itu tidak mengganggu kenikmatan khalayak umum, terkhusus para penguasa. 

Inilah mengapa film ini penting bukan hanya sebagai dokumenter melainkan sebagai tindakan filosofis. 

Benturan Modernitas dan Tradisi Lokal

Pesta Babi bukan hanya hiburan, tetapi ekspresi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat akar rumput. 

Untuk itu dalam film ini, secara tersirat, mau mengatakan bahwa Indonesia memiliki kepastian hukum yuridis tetapi isinya subjektif. 

Hukum cenderung tumpul ke arah penguasa karena lemahnya komitmen para penegak hukum. 

Di sini, hasrat para penguasa lebih bercorak hubris sehingga mengeksploitasi alam secara totaliter tanpa memandang alam sebagai rumah bersama. 

Maka pembangunan didirikan, proyek food estate dipusatkan, serta perkebunan sawit dan tebu diekspansikan demi mengubah hutan dan lahan adat menjadi kawasan industri. 

Hal ini merampas ruang hidup masyarakat lokal yang harmonis dan keutuhan alam yang indah. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved