Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: Dari Dilan ke Dapur

Film ini merupakan sebuah satir visual yang tajam mengenai dunia pendidikan tanah air saat ini. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MAURIANUS F.W DA CUNHA
Maurianus F. W. da Cunha 

Oleh: Maurianus F. W. da Cunha
Alumnus IFTK Ledalero, Flores. Saat ini bekerja dan berdomisili di Kota Bolzano, Italia Utara.

POS-KUPANG.COM - Akhir-akhir ini publik tanah air diramaikan dengan kehadiran film Dilan ITB 1997. Film ini janganlah dilihat semata soal urusan Ariel Noah yang merayu Niken Anjani dengan diksi-diksi manis ala Pidi Baiq. 

Film ini merupakan sebuah satir visual yang tajam mengenai dunia pendidikan tanah air saat ini. 

Bayangkan seorang Dilan yang adalah mahasiswa yang dikenal santai, reflektif dan gemar menulis menjalani kehidupan kampus hari ini. Bukan tidak mungkin bahwa penilaian itu akan bergeser. 

Ia tidak akan dinilai dari cara berpikirnya, tetapi dari IPK, sertifikat dan kecepatan lulus. Ini bukanlah fiksi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per awal tahun 2026 memperlihatkan hal tersebut. 

Tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi berada pada kisaran 5,25-6,04 persen. Angka ini kerap dipakai dalam menjustifikasi kegagalan sebuah pendidikan tinggi. 

Baca juga: Opini: Dolar Menguat dan Rapuhnya Ketahanan Indonesia

Namun harus disadari bahwa persoalannya tidak sesederhana menggoreng kerupuk. Permasalahan mendasarnya bukan sekadar skills mismatch, melainkan disorientasi sistemik di mana pendidikan kehilangan kejelasan tujuan. 

Di sini, film Dilan ITB 1997 menjadi menarik karena ia menghadirkan kampus bukan sebagai mesin produksi, melainkan sebagai ruang hidup. 

Apakah yang ditampilkan Dilan merupakan masa lalu yang ideal, atau sekadar ilusi yang mengelabuhi krisis hari ini? 

Kampus Versi Dilan: Ruang Hidup yang Nyaris Punah 

Kampus dalam dunia Dilan bukan tempat produk cepat saji atau pesanan kilat ala Grab atau Shopee. Tidak ada obsesi terhadap “lulus tepat waktu”. 

Dilan malahan berjalan santai, berdialog, menulis, dan membangun relasi. Sedangkan Ancika menemukan kampus sebagai tempat untuk memahami diri dengan segala kebimbangannya. 

Narasi ini terlihat sederhana, tetapi memiliki pesan kuat di mana pendidikan adalah proses menjadi manusia. 

Namun hal ini bertolak-belakang dengan realita saat ini. Dapat dibilang bahwa kampus berubah menjadi ruang kalkulasi. Mahasiswa menghitung SKS, mengejar IPK, dan mengumpulkan pengalaman magang sebagai “modal jual.” 

Tak ada yang salah dengan semuanya itu. Sayangnya, semuanya itu menjadi satu-satunya ukuran. 

Di sinilah kehadiran Dilan ITB 1997 dinilai sebagai cermin yang mengganggu karena ia tidak hanya romantis, tetapi juga subversif. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved