Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: Ketika Kampus Menghadirkan Dapur MBG

Reformasi 1998 tidak lahir dari universitas yang patuh. Demokrasi tidak tumbuh dari ruang akademik yang sibuk menyenangkan negara. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI APOLONIUS ANAS
Apolonius Anas 

Jarak kritis itu kini mulai terkikis. Kampus dipeluk terlalu erat oleh kekuasaan hingga berisiko kehilangan napas intelektualnya. 

Program yang dibungkus dengan istilah “kesejahteraan”, “gizi”, dan “generasi emas” memang terdengar mulia. 

Namun justru karena terdengar mulia, publik perlu membacanya secara lebih kritis. Persoalannya bukan pada makanan, melainkan pada logika politik di balik kehadirannya di kampus.

Pertanyaannya sederhana: mengapa universitas harus menjadi operator program negara? 

Mengapa kampus harus masuk ke panggung populisme kekuasaan? Mengapa perguruan tinggi yang seharusnya menguji kebijakan justru diarahkan untuk melegitimasi kebijakan?

Pertanyaan itu penting karena menyangkut masa depan kebebasan akademik. Jika kampus terlalu jauh menjadi pelaksana program negara, orientasinya akan bergeser. 

Universitas tidak lagi menjadi ruang pembebasan, tetapi ruang kepatuhan. Dalam bahasa Althusser, institusi pendidikan dapat bekerja sebagai aparatus ideologis negara ketika ia diarahkan untuk mereproduksi kepatuhan, bukan kesadaran kritis (Althusser, 1970). 

Mahasiswa tidak lagi dibentuk sebagai subjek kritis, tetapi sebagai pelaksana administratif. Dosen tidak lagi sepenuhnya hadir sebagai intelektual publik, tetapi perlahan menjadi operator birokrasi akademik. 

Waktu mereka terserap oleh program, target, laporan, dan relasi institusional.

Di titik inilah kampus berisiko berubah menjadi pabrik kepatuhan sosial. Ia tetap tampak hidup melalui seremoni, kolaborasi, dan kegiatan publik. Namun di balik kesibukan itu, daya gugatnya melemah. 

Kampus terlihat berkontribusi, tetapi kontribusinya lebih banyak dipakai untuk memperkuat wajah negara daripada menguji kebijakan negara.

Publik tidak boleh naif. Ini bukan sekadar makan gratis. Ini adalah bentuk penetrasi politik yang halus ke dalam ruang akademik. Kekuasaan memahami bahwa kampus kritis selalu berbahaya bagi kenyamanan politik. 

Karena itu, cara paling aman untuk menjinakkan kampus bukan dengan membungkamnya, tetapi dengan membuatnya sibuk, terlibat, bergantung, dan merasa sedang berbuat baik.

Kekuasaan modern tidak selalu bekerja melalui represi terbuka. Ia dapat bekerja melalui program, fasilitas, bantuan, kemitraan, indikator kinerja, dan bahasa kemanusiaan. 

Foucault menjelaskan bahwa kekuasaan modern bekerja melalui disiplin, pengawasan, normalisasi, dan pembentukan kepatuhan di dalam institusi sosial (Foucault, 1977). 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved