Jumat, 22 Mei 2026

Opini

Opini: Bangkit dari Penyeragaman-Jalan Baru NTT Keluar dari Kemiskinan

Pola pertanian polikultur berbasis pangan lokal memungkinkan masyarakat memperoleh hasil panen hampir sepanjang tahun.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI STEPANUS MAKAMBOMBU
Dr. Stepanus Makambombu 

Oleh: Dr. Stepanus Makambombu
Direktur Perkumpulan Stimulant Institute dan mengampu matakuliah Analisa Kebijakan Publik di Universitas Kristen Wira Wacana Sumba, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei lahir dari spirit kedaerahan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan. 

Spirit itu kemudian dikonsolidasikan melalui wadah Boedi Oetomo tahun 1908 dan ditransformasikan menjadi kesadaran nasional. 

Perjuangan tidak lagi bergerak secara sporadis, tetapi melalui pendidikan, organisasi modern, dan kesadaran kolektif yang melampaui sekat-sekat etnisitas. 

Kesamaan pengalaman sebagai bangsa terjajah berhasil menyatukan warga nusantara hingga akhirnya melahirkan Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Pertanyaannya, setelah gerakan Boedi Oetomo 118 tahun lalu dan 80 tahun Indonesia merdeka, apakah kita masih membutuhkan kesadaran kolektif? 

Baca juga: Opini: Menatap Realita Tambak Garam di NTT- Mengapa Angka 26.000 Tenaga Kerja Hanya Ilusi?

Jawabannya: ya. Namun bentuknya berbeda. Jika dahulu kesadaran kolektif diarahkan untuk melawan penjajahan, maka hari ini kesadaran itu diperlukan untuk melawan cara pandang pembangunan yang seragam dan tidak kontekstual.

Kemiskinan sebagai Pengalaman Kolektif

Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur ( NTT), ada satu pengalaman bersama yang terus melekat dari waktu ke waktu, yaitu kemiskinan. 

Dalam berbagai dokumen kebijakan dan statistik nasional, NTT hampir selalu ditempatkan sebagai salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Tahun 2025, tingkat kemiskinan NTT masih berada pada kisaran 18,6 persen. 

Status ini tetap melekat meski kepemimpinan daerah terus berganti dan program pembangunan silih berganti dijalankan.

Situasi ini kemudian melahirkan dua cara pandang terhadap NTT. Pertama, paradigma pembangunan konvensional yang melihat daerah kering dan gersang sebagai wilayah miskin karena dianggap minim sumber daya alam. 

Cara pandang ini melahirkan stigma lama, NTT sebagai “ Nanti Tuhan Tolong”.

Kedua, paradigma pembangunan berkelanjutan yang melihat NTT bukan sebagai wilayah miskin, melainkan wilayah yang memiliki kekuatan ekologis dan kebudayaan yang khas. 

Laut yang luas, bentang alam sabana eksotik, budaya lokal, pangan tradisional, hingga ekonomi kreatif berbasis komunitas merupakan modal besar yang selama ini kurang mendapat perhatian. 

Perspektif kedua inilah yang sesungguhnya membutuhkan keberanian cara pandang baru terhadap masa depan NTT.

Ketika Penyeragaman Tidak Efektif

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved