Opini
Opini: Bangkit dari Penyeragaman-Jalan Baru NTT Keluar dari Kemiskinan
Pola pertanian polikultur berbasis pangan lokal memungkinkan masyarakat memperoleh hasil panen hampir sepanjang tahun.
Oleh: Dr. Stepanus Makambombu
Direktur Perkumpulan Stimulant Institute dan mengampu matakuliah Analisa Kebijakan Publik di Universitas Kristen Wira Wacana Sumba, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei lahir dari spirit kedaerahan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan.
Spirit itu kemudian dikonsolidasikan melalui wadah Boedi Oetomo tahun 1908 dan ditransformasikan menjadi kesadaran nasional.
Perjuangan tidak lagi bergerak secara sporadis, tetapi melalui pendidikan, organisasi modern, dan kesadaran kolektif yang melampaui sekat-sekat etnisitas.
Kesamaan pengalaman sebagai bangsa terjajah berhasil menyatukan warga nusantara hingga akhirnya melahirkan Indonesia merdeka pada tahun 1945.
Pertanyaannya, setelah gerakan Boedi Oetomo 118 tahun lalu dan 80 tahun Indonesia merdeka, apakah kita masih membutuhkan kesadaran kolektif?
Baca juga: Opini: Menatap Realita Tambak Garam di NTT- Mengapa Angka 26.000 Tenaga Kerja Hanya Ilusi?
Jawabannya: ya. Namun bentuknya berbeda. Jika dahulu kesadaran kolektif diarahkan untuk melawan penjajahan, maka hari ini kesadaran itu diperlukan untuk melawan cara pandang pembangunan yang seragam dan tidak kontekstual.
Kemiskinan sebagai Pengalaman Kolektif
Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur ( NTT), ada satu pengalaman bersama yang terus melekat dari waktu ke waktu, yaitu kemiskinan.
Dalam berbagai dokumen kebijakan dan statistik nasional, NTT hampir selalu ditempatkan sebagai salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Tahun 2025, tingkat kemiskinan NTT masih berada pada kisaran 18,6 persen.
Status ini tetap melekat meski kepemimpinan daerah terus berganti dan program pembangunan silih berganti dijalankan.
Situasi ini kemudian melahirkan dua cara pandang terhadap NTT. Pertama, paradigma pembangunan konvensional yang melihat daerah kering dan gersang sebagai wilayah miskin karena dianggap minim sumber daya alam.
Cara pandang ini melahirkan stigma lama, NTT sebagai “ Nanti Tuhan Tolong”.
Kedua, paradigma pembangunan berkelanjutan yang melihat NTT bukan sebagai wilayah miskin, melainkan wilayah yang memiliki kekuatan ekologis dan kebudayaan yang khas.
Laut yang luas, bentang alam sabana eksotik, budaya lokal, pangan tradisional, hingga ekonomi kreatif berbasis komunitas merupakan modal besar yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Perspektif kedua inilah yang sesungguhnya membutuhkan keberanian cara pandang baru terhadap masa depan NTT.
Ketika Penyeragaman Tidak Efektif
Stepanus Makambombu
Opini Pos Kupang
Tanam Pangan Lokal
Keragaman Pangan Lokal
pangan lokal NTT
Universitas Kristen Wira Wacana Sumba
Meaningful
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Hantavirus dan Kepanikan Publik-Ketakutan Lebih Cepat Menyebar daripada Virus |
|
|---|
| Opini: Menatap Realita Tambak Garam di NTT- Mengapa Angka 26.000 Tenaga Kerja Hanya Ilusi? |
|
|---|
| Opini: Kampung Halaman- Antara Menemukan dan Menciptakan |
|
|---|
| Opini: Stunting Epistemik di Nusa Tenggara Timur |
|
|---|
| Opini: Siapa yang Sebenarnya Menjadi "Babi"? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dr-Stepanus-Makambombu-01.jpg)