Breaking News
Senin, 11 Mei 2026

Opini

Opini: Buzzer dan Demokrasi Indonesia

Tendensius buzzer politik lebih tertarik pada tawaran dari oligarki daripada bertindak sebagai buzzer akademis yang berjiwa demokrasi. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
Serambi Indonesia
ILUSTRASI 

Ekspresi akal sehat memakai kritik melalui diskursus seputar masalah di tengah masyarakat seperti, ketidakadilan dan diskriminasi terhadap LGBT, HAM, kekerasan terhadap perempuan, dan isu sosial yang lainya, sebenarnya buzzer, bersuara lantang perihal ketimpangan sosial itu. 

Oleh karena itu, kita mengharapkan dialektika hadir di ruang publik untuk mengedukasi masyarakat tentang etika politik untuk demokrasi yang berlandas pada argumentasi. 

Selain itu, publik sangat mengharapkan agar buzzer politik untuk mengambil sikap oposisi berbasis epistemologi sebagai cerminan buzzer yang kualitas. (*)

Rujukan

  •  [1]Yunita Nur Fadilla dan Yuna Sahyana, “Peran Aturan Hukum Dalam menciptakan tata Pemerintahan Yang membangun Partisipasi Demokrasi Yang Berkelanjutan”, Jurnal UGM, Vol. 9, No. 4, November 2024, hlm.160.
  • [2] F. Budi Hardiman, Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia Dalam Revolusi Digital (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2021), Hlm 61.
  • [3] Ibid., hlm. 62.
  • [4]Otto Gusti Madung, Habermas dan Intelektual Publik”, dalam Kompas. Id, https://www.kompas.id/artikel/en-habermas-dan-intelektual-publik, diakses pada 7 Mei 2026.
  • [5]Iko Amraeny, “Bahaya Penggunaan Deepfake: Ini Kasus Deepfake di Indonesia”, dalam Media Indonesia, https://mediaindonesia.com/teknologi/803107/bahaya-penggunaan-deepfake-ini-kasus,deepfake-di-indonesia, diakses pada 7 Mei 2026.
  • [6]Bary Fathahilah, “Gerakan Melawan Berita Hoax”, dalam Media Indonesia, https://mediaindonesia.com/opini/87136/gerakan/melawan/berita/hoax, diakses pada 7 Mei 2026.
  • [7]Farida Farhan, “Akademisi Unsika Sebut Buzzer Politik Ancaman Kualitas Demokrasi Indonesia”, dalam Kompas. Id, https://bandung.kompas.com/read/2025/05/13/142217278/akademisi-unsika-sebut-buzzer-politik-ancaman-kualitas-demokrasi-indonesia, diakses pada 4 Mei 2026.
  • [8] Zayyin Abdul Quddus dan Gustiana Sabarina, “Dinamika Buzzer Politik Terhadap Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Dalam Pemilu”, Jurnal pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, Vol. 01, No. 03, Arip-Juni 2023, hlm. 287-292.
  • [9]Kementerian Komunikasi, “Menggusur Buzzer Dari Ruang Demokrasi”, dalam Komdigi. Go. Id, https://www.komdigi.go.id/berita/pengumuman/detail/menggusur-buzer-dari-ruang-demokrasi, diakses pada 5 Mei 2026.
  • [10] Rieka Mustika, “Pergeseran Peran Buzzer Ke Dunia Politik Melalui Media Sosial”, Jurnal Diakom, Vol. 2, No. 2, Desember 2019, hlm. 151-158.
  • [11] Sri Hadijah Arnus, Subria Mamis, dan Agus Prio Utomo, “Peran Buzzer Politik di Ruang Publik Pada Pilpres 2024” Jurnal komunikasi dan penyiaran Islam, vol. 2, Nomor. 2, 2025, hlm. 75-86
  • [12] Suharto Mahmuddin, “Komunikasi Dakwah dan Fenomena Demonstrasi Anarkis di Makassar”, Jurnal Kajian Manajemen Dakwah, Vol. 3, No. 2, April 2021, hlm. 129.
  • [13]Jaka Budi Santosa, “Podium Media Indonesia Antara Buzzer dan Preman”, dalam Media Indonesia, https://www.metrotvnews.com/read/NleC89gD-podium-media-indonesia-antara-buzzer-dan-preman, diakses pada 6 Mei 2026.
  • [14]Cimb Niaga, “Pahami Apa itu Buzzer, Fungsi, Cara Kerja, Hingga Dampaknya”, dalam Cimb Niaga, https://www..cimbniaga.co.id/id/isprirasi/gayahidup/pahami-apa-itu-buzzer-cara-kerja-hingga-dampaknya, diakses pada 6 Mei 2026.
  • [15] Ade Jurniawan Siregar dan Eka Fitri Qurniawati, Analisis Framing Pemberitaan Buzzer di Tempo.co”, Journal Of New Media and Communication, vol. 1, No. 1, April 2022, hlm. 3.
  • [16]JPNN.com, “Rocky Gerung Sebut Ruang Publik Dikuasai Buzzer istana”, dalam JPNN. Com, https://m.jpnn.com/news/rocky-Gerung-sebut-ruang-publik -dikuasai-buzzer-istana, diakses pada 4 Mei 2026.
  • [17]F. Budi Hardiman, Demokrasi Deliberatif: Menimbang Negara Hukum dan Ruang Publik Dalam Teori Diskursus Jurgen Habermas (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2009), hlm. 127. 
  • [18] Rocky Gerung, “Memimpin Frustasi Rakyat”, dalam Rizal. (ed.), Obat Dungu Resep Akal Sehat: Filsafat Untuk Republik Kuat (Depok: Penerbit, Komunitas Bambu, 2024), hlm. 69.
  • [19]Ferdinandus Jehalut, “Imam Cendekiawan Organik”, dalam Kupang Tribune News, Com, https://kupang.tribunnews.com/editorial/959029/opini-imam-cendekiawan-organik, diakses pada 6 Mei 2026.
  • [20]Yosef Keladu Koten, Partisipasi Politik: Sebuah Analisis Atas Etika Politik Aristoteles. (Maumere: Penerbit Ledalero, 2010), hlm. 133.
  • [21]Rocky Gerung, “Cendekiawan, Kultur dan Politik”, dalam Rizal. (ed.), Obat Dungu Resep akal  Sehat: Filsafat Untuk Republik Kuat (Depok: Komunitas Bambu, 2024), hlm. 65.

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved