Opini
Opini: Etika Generasi Digital
Banyak konten edukatif, inspiratif, dan kemanusiaan yang mampu memberikan dampak baik bagi masyarakat.
Oleh: Aldo Fernandes
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang siknifikan dalam kehidupan manusia modern.
Kehadiran media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga membentuk pola pikir, gaya hidup, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri.
Dalam ruang digital, segala sesuatu dapat tersebar dengan cepat tanpa batas oleh ruang dan waktu. Informasi, hiburan, opini, hingga konflik sosial dapat menjadi viral hanya dalam hitungan menit.
Viralitas kemudian menjadi ukuran baru keberhasilan dan perhatian publik. Semakin banyak orang melihat, membagikan, atau mengomentari suatu konten, maka semakin dianggap penting konten tersebut.
Baca juga: Opini: Rupiah di Titik Nadir, BI Tak Bisa Menggendong Sendiri!
Namun, di balik kemajuan itu muncul persoalan serius mengenai moral dan etika generasi digital.
Banyak individu rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian publik di media sosial.
Konten yang mengandung penghinaan, kebohongan, eksploitasi privasi, hingga tindakan tidak manusiawi sering kali dipertontonkan demi memperoleh popularitas.
Salah satu cotoh sederhana penggunaan FB Pro, demi popularitas pribadi kebanyakan orang menomor duakan nilai-nila yang lebih fundamental yakni moral serta budaya saling menghargai.
Dalam situasi seperti ini, moral perlahan dikalahkan oleh keinginan untuk viral. Nilai benar dan salah menjadi kabur karena yang dianggap utama bukan lagi etika, melainkan jumlah penonton dan pengikut.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa generasi digital sedang menghadapi krisis refleksi moral. Teknologi yang seharusnya membantu manusia berkembang justru kadang menjadikan manusia kehilangan arah etis.
Oleh karena itu, penting untuk merefleksikan kembali bagaimana moralitas harus ditempatkan di tengah budaya viralitas agar teknologi tetap digunakan demi terlestarinya bonum commune.
Viralitas sebagai Budaya Baru Generasi Digital
Media sosial telah melahirkan budaya baru dalam masyarakat modern. Viralitas menjadi simbol eksistensi dan pengakuan sosial. Banyak orang merasa dirinya dihargai ketika memperoleh banyak “like,” komentar, atau pengikut.
Dalam situasi ini, ruang digital bukan lagi sekadar tempat berbagi informasi, melainkan arena untuk mencari validasi sosial.
Generasi muda menjadi kelompok yang paling dekat dengan budaya tersebut. Mereka hidup dalam dunia yang hampir seluruh aktivitasnya terhubung dengan internet.
| Opini: Rupiah di Titik Nadir, BI Tak Bisa Menggendong Sendiri! |
|
|---|
| Opini - Anima Mundi di Tanah Flobamora: Menghidupkan Kesadaran Ekologis Masyarakat NTT |
|
|---|
| Opini - Krisis Ekologi sebagai Kehilangan Kesadaran akan Wahyu Allah |
|
|---|
| Opini: Buzzer dan Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Opini - Suara Emansipasi: Rintihan Buruh Perempuan NTT dalam Terang Teologi Feminis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Aldo-Fernandes-02.jpg)