Selasa, 12 Mei 2026

Opini

Opini: Seragam Putih Abu Abu dan Krisis Biografi Moral Generasi Digital di Kupang

Di banyak rumah, kelulusan tidak pernah benar benar hadir sebagai peristiwa tunggal yang sederhana. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DEBBIE MARLENI SODAKAIN
Debbie Marleni Sodakain 

Refleksi Mazmur 1:1–6 atas Fenomena Kelulusan SMA di NTT

Oleh: Debbie Marleni Sodakain
Pendeta GMIT di Mollo Barat
e-Mail: dmsodakain@gmail.com

POS-KUPANG.COM - Saya tidak mulai dari konsep. Saya mulai dari sesuatu yang lebih jujur daripada teori: gambar yang berulang di layar gawai beberapa hari terakhir di Kupang, ketika seragam putih abu abu tidak lagi tampil sebagai simbol pendidikan yang tenang, tetapi berubah menjadi ruang ekspresi yang dicoret, ditandai dan diunggah dalam hitungan detik menjadi konsumsi publik. 

Di titik ini, kita tidak sedang melihat sekadar tradisi kelulusan, tetapi pergeseran cara sebuah generasi memaknai dirinya sendiri di hadapan dunia yang serba cepat dan serba terlihat.

Di banyak rumah, kelulusan tidak pernah benar benar hadir sebagai peristiwa tunggal yang sederhana. 

Ia selalu datang sebagai campuran yang tidak rapi antara lega, bangga dan cemas yang tidak selalu bisa diucapkan. 

Baca juga: Opini: Gugatan Etika atas Euforia Siswa-Siswi NTT Saat Kelulusan

Seorang ibu mungkin tersenyum ketika anaknya lulus, tetapi dalam diam ia menyimpan pertanyaan yang lebih berat dari angka kelulusan itu sendiri, apakah yang sedang tumbuh dalam diri anaknya adalah kedewasaan, atau hanya kemampuan untuk tampil di ruang yang semakin luas tanpa kedalaman yang cukup untuk menanggung hidupnya sendiri.

Di luar rumah, jalanan menjawab dengan logika yang berbeda. Konvoi, teriakan, coret coret seragam dan unggahan yang dalam hitungan menit berubah menjadi viral. 

Pemberitaan mencatat euforia kelulusan di Kupang yang diwarnai aksi coret coret seragam (Detik Bali, 2026), lalu ruang publik menjadi lebih tegang ketika muncul konten visual yang dinilai tidak etis dan mengandung unsur pelecehan terhadap perempuan (Fakta Indo, 2026). 

Semua ini berlangsung dalam ritme yang cepat, seolah tidak memberi ruang bagi refleksi untuk menyusul.

Jika kita jujur, ini bukan sekadar tradisi yang berlebihan. Ini adalah tanda bahwa kecepatan ekspresi sudah melampaui kedalaman pembentukan manusia.

Di titik ini, pertanyaan yang lebih serius muncul: apakah kita masih sedang mendidik manusia, atau hanya sedang memproduksi momen yang kebetulan berbentuk manusia?

Sekam yang Dirayakan Sebagai Kebebasan

Masalahnya bukan pada satu kelompok siswa, bukan pada satu sekolah dan bukan pada satu peristiwa yang viral sesaat. Masalahnya adalah pada ekosistem yang membentuk cara berpikir sebelum tindakan itu lahir dan dianggap wajar.

Gordon (1980) menjelaskan bahwa pendidikan tidak hanya bekerja melalui kurikulum formal, tetapi juga melalui hidden curriculum, yaitu nilai nilai yang hidup dalam budaya sekolah yang tidak pernah tertulis tetapi justru paling kuat membentuk cara siswa memahami dunia. 

Yang tidak diajarkan secara eksplisit sering kali justru menjadi yang paling menentukan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved