Opini
Opini - Krisis Ekologi sebagai Kehilangan Kesadaran akan Wahyu Allah
Kerusakan ekologi disebabkan oleh manusia yang mempunyai keinginan untuk menguasai alam dengan tidak bertanggung jawab.
Opini - Krisis Ekologi sebagai Kehilangan Kesadaran akan Wahyu Allah
Oleh: Fr. Robertus B. Banu
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Kehidupan manusia dewasa ini sering di hadapkan dengan berbagai masalah baik masalah sosial,ekonomi dan politik.
Lebih jauh dari itu masalah manusia sekarang adalah masalah ekologi yakni kerusakan alam besar-besaran yang dilakukan oleh manusia demi kepentingan tertentu.
Kerusakan ekologi yang terjadi disebabkan oleh manusia yang mempunyai keinginan untuk menguasai alam dengan tidak bertanggung jawab.
Salah satu pandangan manusia yang memicu terjadinya kerusakan alam adalah paham antroposentrisme di mana manusia dipandang sebagai pusat segalanya selain itu, keserakaan ekonomi serta kepentingan politik yang tinggi menjadi pemicu bagi manusia untuk mengeksploitasi alam secara besar-besaran.
Kesadaran manusia akan wahyu Allah menjadi pertanyaan besar bagi setiap orang kristiani jika melihat kerusakan alam yang terjadi sekarang
Sejak awal penciptaan, perintah Allah jelas bahwa manusia diciptakan untuk berkuasa atas alam dan lingkungan sekitar. “Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (kej.1:28).
Bertindak sebagai penguasa, di sini manusia bukan sebagai penguasa yang menghancurkan dan melakukan segala cara untuk merusak alam, tetapi bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara alam sebagai bagian dari ciptaan.
Manusia harus melihat alam sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang mulia. Dalam agama kristiani, diyakini bahwa Allah menyatakan kehendakNya kepada manusia dan menciptakan hubungan komunikasi dengan manusia. Tindakan Allah inilah yang disebut wahyu atau revelasi.
Ada dua jenis wahyu yaitu wahyu umum dan wahyu Khusus. Wahyu umum adalah tindakan Allah menyatakan DiriNya kepada manusia melalui alam ciptaan, hati nurani dan akal budi manusia.
Manusia dianugerahi akal budi dan kehendak bebas untuk menjelajahi dunia dan alam sekitar untuk mencapai suatu pemahaman yang lebih mendalam tentang Tuhan dan kehendakNya.
Sedangkan wahyu khusus adalah tindakan Allah untuk meyelamatkan manusia melalui bangsa Israel dan berpuncak pada Yesus Kristus.
Baca juga: Opini - Suara Emansipasi: Rintihan Buruh Perempuan NTT dalam Terang Teologi Feminis
Kesadaran manusia akan wahyu Allah menjadi langkah awal untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar. Setiap pribadi harus sadar bahwa alam ciptaan adalah bagian dari kehidupan dan karya Allah yang luhur yang membantu manusia memahami tentang Allah.
Ketika seseorang mengamati dan menikmati keindahan dan keteraturan ciptaan akan menimbulkan suatu keheranan dan kekaguman yang menuntun mereka untuk merenungkan Sang penciptanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Fr-Robertus-B-Banu-okay.jpg)