Opini
Opini: Seragam Putih Abu Abu dan Krisis Biografi Moral Generasi Digital di Kupang
Di banyak rumah, kelulusan tidak pernah benar benar hadir sebagai peristiwa tunggal yang sederhana.
Elisabeth Schüssler Fiorenza (1983) menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dalam budaya tidak selalu hadir dalam bentuk fisik, tetapi juga melalui simbol, bahasa dan representasi yang secara halus tetapi terus menerus merendahkan perempuan dalam ruang publik.
Dengan demikian, yang sedang terjadi bukan hanya perilaku individu, tetapi normalisasi cara pandang yang perlahan membentuk cara kita melihat tubuh dan martabat.
Di titik ini, kita perlu berhenti dan berkata dengan jujur bahwa tidak semua yang viral layak disebut kebebasan dan tidak semua yang bisa dilakukan pantas dirayakan.
Akar yang Dipertanyakan, Generasi yang Dipertaruhkan
Freire (1970) menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah pembebasan kesadaran, bukan sekadar produksi kelulusan administratif.
Namun ketika pendidikan hanya berhenti pada angka, ujian dan ijazah, maka yang lahir adalah manusia yang mampu lulus, tetapi belum tentu mampu memahami konsekuensi dari kebebasan yang ia miliki sendiri.
Nisa (2009) menambahkan bahwa hilangnya dimensi reflektif dalam pendidikan membuat manusia kehilangan kemampuan untuk membaca dirinya dalam relasi dengan nilai, tubuh dan sesama.
Di NTT, pendidikan bukan sekadar perjalanan individu, tetapi hasil dari pengorbanan kolektif: kerja orang tua, tanah yang keras dan harapan yang tidak pernah ringan.
Karena itu, ketika simbol pendidikan berubah menjadi ruang ekspresi yang kehilangan etika, yang terluka bukan hanya individu, tetapi juga makna sosial dari seluruh perjuangan itu.
Dan di titik ini, pertanyaan menjadi tidak lagi dapat dihindari: apakah kita sedang membentuk manusia yang berakar, atau manusia yang hanya mahir mengikuti angin?
Apakah kita sedang mendidik generasi yang mampu menghormati tubuh dan martabat orang lain, atau generasi yang hanya mampu memproduksi perhatian tanpa kesadaran? Dan apakah Mazmur 1 masih kita baca sebagai teks iman, atau sebenarnya sedang membaca kita sebagai masyarakat yang perlahan kehilangan akar pembentukannya sendiri?
Penutup: Akar yang Sunyi dan Angin yang Terlalu Ramai
Pada akhirnya, ini bukan tentang seragam yang dicoret, tetapi tentang akar yang tidak sempat tumbuh cukup dalam sebelum angin budaya menjadi terlalu kuat, terlalu cepat dan terlalu bising.
Dalam situasi seperti ini, yang kita butuhkan bukan hanya reaksi moral yang cepat, tetapi kejujuran sosial yang pelan, bahwa mungkin kita terlalu cepat meluluskan manusia, tetapi belum cukup sabar menanam kedalaman dalam diri mereka.
Mazmur 1 tidak berteriak. Ia hanya menempatkan dua gambaran di hadapan kita: akar dan angin. Dan di antara keduanya kita sedang diuji sebagai masyarakat, apakah kita masih percaya bahwa manusia harus berakar, atau kita sudah menerima bahwa cukup menjadi sekam yang hidup dari arus yang paling cepat dan paling ramai. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
Debbie Marleni Sodakain
corat-coret seragam
corat-coret
Opini Pos Kupang
Pendeta GMIT
Meaningful
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Lapangan Kerja di Antara Data dan Denyut Kehidupan |
|
|---|
| Opini: Ketidakpatuhan Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah |
|
|---|
| Opini: Jangan Tunggu Kacau- Mengapa Lembaga Kita Gagal Mengelola Risiko? |
|
|---|
| Opini: Lamalera dan Dunia yang Hampir Kehilangan Jiwa |
|
|---|
| Opini - Merenungkan Peristiwa Mulia Selama Bulan Maria yang Bertepatan dengan Masa Paskah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Debbie-Marleni-Sodakain.jpg)