Minggu, 10 Mei 2026

Opini

Opini: Lapangan Kerja di Antara Data dan Denyut Kehidupan

Di tengah suasana itu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis: tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia kembali menurun. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DIAN SASKIA BANI
Dian Saskia Bani 

Oleh: Dian Saskia Bani
Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Di berbagai kesempatan, mulai dari acara keluarga, tongkrongan muda-mudi, hingga arisan komunitas, obrolan soal sulitnya mencari kerja bukan lagi keluhan sesekali. 

Ia sudah menjadi topik harian. Anak muda yang baru lulus bertanya-tanya ke mana harus melamar, sementara yang sudah bekerja pun tidak selalu merasa aman. 

Di tengah suasana itu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis: tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia kembali menurun. 

Pada Februari 2026, angkanya tercatat 4,68 persen, lebih rendah dari 4,76 persen setahun sebelumnya. 

Lalu muncul pertanyaan: apakah data yang dikeluarkan oleh BPS tidak mencerminkan kenyataan yang sebenarnya?

Baca juga: Opini: Lamalera dan Dunia yang Hampir Kehilangan Jiwa

Jawabannya tidak bisa sekadar ya atau tidak. Data bukan angka tunggal yang berbicara sendiri, melainkan gambaran ringkas yang konteksnya perlu dibaca secara utuh. 

BPS mencatat bahwa pengangguran secara absolut tampak jalan di tempat meskipun TPT menurun. 

Berdasarkan data Sakernas Februari dalam dua tahun terakhir, jumlah angkatan kerja terus bertumbuh dari 149,38 juta orang pada Februari 2024 menjadi 154,91 juta orang pada Februari 2026 — bertambah 5,53 juta orang. 

Di saat bersamaan, jumlah pengangguran absolut hampir tidak berubah, justru naik tipis 0,04 juta. 

Ini menggambarkan bahwa pasar kerja memang mampu menyerap pertambahan tenaga kerja, tapi belum mampu memperkecil kantong-kantong pengangguran di negeri ini.

Fenomena ini berkaitan dengan struktur demografi Indonesia yang sedang berada dalam fase bonus demografi. 

Setiap tahun, penduduk usia kerja baru terus masuk ke pasar tenaga kerja, menghadapkan kita pada perlombaan antara pertumbuhan kesempatan kerja dan ledakan jumlah pencari kerja. 

Selama lapangan kerja baru yang tercipta hanya cukup untuk mengimbangi laju pertambahan angkatan kerja, tanpa daya lebih untuk mengentaskan pengangguran yang sudah mengendap, tekanan di pasar tenaga kerja akan tetap terasa meskipun secara persentase terlihat membaik.

Di sisi lain, tenaga kerja yang sudah berhasil terserap oleh pasar juga menghadapi persoalan serius. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved