Opini
Opini: Seragam Putih Abu Abu dan Krisis Biografi Moral Generasi Digital di Kupang
Di banyak rumah, kelulusan tidak pernah benar benar hadir sebagai peristiwa tunggal yang sederhana.
Namun hari ini, sekolah tidak lagi menjadi satu satunya ruang pembentukan manusia.
Baca juga: Opini: Jangan Tunggu Kacau- Mengapa Lembaga Kita Gagal Mengelola Risiko?
Ruang digital telah mengambil peran yang jauh lebih dominan, di mana Harrison dan Polizzi (2022) menunjukkan bahwa remaja membentuk keputusan moral berdasarkan tekanan sosial instan, bukan refleksi etis yang mendalam.
Yang viral menjadi benar, yang ramai menjadi rujukan dan yang disukai menjadi standar kebenaran sementara.
Bauman (2000) menyebut kondisi ini sebagai masyarakat cair, di mana identitas manusia tidak lagi memiliki akar yang stabil, tetapi terus mengalir mengikuti arus yang paling cepat dan paling kuat.
Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak lagi dilatih untuk berakar, tetapi untuk bergerak; tidak lagi untuk mendalam, tetapi untuk tampil; tidak lagi untuk bertahan, tetapi untuk segera terlihat.
Di dalam ekologi seperti ini, sekam bukan lagi sekadar metafora, tetapi gambaran sosial yang konkret tentang manusia yang kehilangan bobot batin.
Ia ringan, cepat dan mudah terbawa arus, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk kembali ketika angin berhenti.
Dan di sinilah ironi sosial itu menjadi semakin jelas: kita hidup dalam budaya yang merayakan kecepatan, tetapi perlahan kehilangan kemampuan untuk menilai kedalaman. Yang dianggap kebebasan sering kali hanyalah ketidakmampuan untuk menunda reaksi dan yang dianggap ekspresi sering kali hanyalah refleks sosial yang belum sempat dipikirkan.
Mazmur 1 dan Gugatan Terhadap Cara Kita Menanam Manusia
Mazmur 1 tidak sedang memberi nasihat moral yang sederhana. Ia sedang menggugat cara manusia dibentuk dalam relasi dengan sumber hidupnya.
Gambaran tentang pohon yang ditanam di tepi aliran air tidak berbicara tentang kekuatan yang terlihat, tetapi tentang akar yang tersembunyi, tentang kehidupan yang bertahan karena terhubung pada sumber yang tidak tampak tetapi menentukan segalanya.
Sebaliknya, sekam tidak digambarkan sebagai simbol kejahatan aktif, tetapi sebagai simbol kehilangan bobot, kehilangan struktur dan kehilangan kemampuan untuk kembali ketika angin berhenti.
Postman (1985) mengingatkan bahwa dalam budaya yang didominasi tontonan, makna tidak lagi lahir dari kedalaman, tetapi dari perhatian yang cepat habis.
Dalam situasi seperti ini, bahkan simbol simbol pendidikan dapat bergeser menjadi panggung ekspresi yang kehilangan isi.
Dalam konteks ini, seragam putih abu abu yang seharusnya menjadi simbol proses panjang pembentukan disiplin, tanggung jawab dan etika, kini dapat berubah menjadi kanvas ekspresi yang tidak lagi mengenal batas.
Ketika ekspresi itu menyentuh tubuh perempuan dalam bentuk gambar atau tulisan yang merendahkan, kita tidak sedang berhadapan dengan sekadar candaan remaja, tetapi dengan krisis cara masyarakat membaca martabat manusia.
Debbie Marleni Sodakain
corat-coret seragam
corat-coret
Opini Pos Kupang
Pendeta GMIT
Meaningful
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Lapangan Kerja di Antara Data dan Denyut Kehidupan |
|
|---|
| Opini: Ketidakpatuhan Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah |
|
|---|
| Opini: Jangan Tunggu Kacau- Mengapa Lembaga Kita Gagal Mengelola Risiko? |
|
|---|
| Opini: Lamalera dan Dunia yang Hampir Kehilangan Jiwa |
|
|---|
| Opini - Merenungkan Peristiwa Mulia Selama Bulan Maria yang Bertepatan dengan Masa Paskah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Debbie-Marleni-Sodakain.jpg)