Jumat, 8 Mei 2026

Opini

Opini: Lamalera dan Dunia yang Hampir Kehilangan Jiwa

Kita perlu jujur mengatakan: Lamalera sedang menghadapi tekanan besar dari kapitalisasi budaya dan eksploitasi ekonomi.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MIKE KERAF
Mike Keraf 

Dari Pesisir Lembata, Sebuah Seruan untuk Menyelamatkan Manusia dan Alam

Oleh: Mike Keraf, CSsR *

POS-KUPANG.COM - Di tengah dunia yang semakin bising oleh pasar, eksploitasi, dan perebutan sumber daya, sebuah kampung kecil di pesisir selatan Pulau Lembata masih menyimpan pertanyaan penting bagi peradaban modern: apakah manusia masih bisa hidup tanpa saling menyingkirkan?

Pertanyaan itu bernama Lamalera.

Setiap tahun, masyarakat Lamalera membuka musim Leva — musim melaut tradisional — bukan sekadar sebagai aktivitas ekonomi, melainkan ritus kehidupan. 

Perahu didorong ke laut bukan hanya untuk mencari hasil tangkapan, tetapi untuk merawat relasi antara manusia, alam, leluhur, dan Tuhan.

Namun hari ini, Lamalera sedang berdiri di persimpangan zaman.

Baca juga: BREAKING NEWS: Warga Lamalera Meninggal Tenggelam di Laut

Di satu sisi, ia dipuji sebagai warisan budaya dunia. Di sisi lain, ia mulai digerus perlahan oleh arus individualisme, tekanan ekonomi, krisis ekologis, migrasi generasi muda, perubahan iklim, hingga logika pasar yang menjadikan segala sesuatu layak dijual — termasuk tradisi dan laut itu sendiri.

Pertanyaannya: masihkah Lamalera mampu mempertahankan jiwanya?

Laut yang Tidak Lagi Sama

Para nelayan Lamalera tahu: laut sedang berubah. Musim semakin sulit dibaca. Angin bergeser. Gelombang membesar. Hasil tangkapan menurun. Ikan menjauh. Cuaca makin ekstrem. 

Krisis iklim global kini bukan lagi istilah akademik; ia telah menjadi kenyataan sehari-hari di tubuh para pendayung dan nelayan kecil.

Tetapi ancaman Lamalera bukan hanya datang dari alam.

Ancaman terbesar justru datang dari cara manusia modern memandang kehidupan:
bahwa laut hanyalah komoditas,
bahwa alam hanya sumber keuntungan,
bahwa keberhasilan diukur dari akumulasi,
dan bahwa manusia boleh mengambil sebanyak mungkin tanpa batas.

Di titik inilah Lamalera sebenarnya sedang memberi pelajaran besar kepada dunia.

Sebab dalam tradisi Lamalera, laut bukan objek penaklukan. Laut adalah ruang perjumpaan yang harus dihormati. Ada batas. Ada ritus. Ada etika. Ada kesadaran bahwa manusia tidak lebih besar dari alam.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved