Opini
Opini - Merenungkan Peristiwa Mulia Selama Bulan Maria yang Bertepatan dengan Masa Paskah
Gereja Katolik dalam kearifan pedagogisnya, mengarahkan kekaguman manusia atas keindahan alam ini kepada Bunda Maria.
Opini - Merenungkan Peristiwa Mulia Selama Bulan Maria yang Bertepatan dengan Masa Paskah
Oleh: Joaquin De Santos Fahik
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Gereja Katolik mengkhususkan bulan Mei sebagai bulan Maria. Penetapan ini berakar pada transformasi budaya yang mendalam di Eropa abad ke-18.
Pada masa itu, bulan Mei dipandang sebagai puncak musim semi, saat alam berseri dengan bunga-bunga yang bermekaran.
Gereja Katolik dalam kearifan pedagogisnya, mengarahkan kekaguman manusia atas keindahan alam ini kepada Bunda Maria.
Secara formal, Paus Paulus VI melalui Ensiklik Mense Maio pada tahun 1965 menegaskan bahwa bulan Mei adalah kesempatan istimewa bagi umat beriman untuk memberikan penghormatan lebih kepada Sang Perawan Suci
melalui praktik devosi yang kaya.
Dokumen ini, yang kemudian diperkuat oleh Anjuran Apostolik Marialis Cultus (1974), meletakkan dasar bahwa penghormatan kepada Maria tidak boleh dipisahkan dari misteri keselamatan yang dikerjakan oleh Kristus.
Bagi umat Katolik Nusa Tenggara Timur (NTT), seruan bulan Maria ini disambut dengan gairah spiritual yang luar biasa unik dan komunal.
Bagi umat Katolik di tanah Flobamora, Mei merupakan bulan di mana malam-malam menjadi lebih panjang dengan lantunan doa yang menggema dari satu rumah ke rumah lainnya.
Devosi Maria di NTT telah menyatu dengan identitas sosial umat. Praktik doa rosario berantai atau doa lingkungan menciptakan ruang perjumpaan yang intim.
Di sela-sela kesibukannya, umat beriman menyempatkan diri berkumpul bersama di depan arca Maria yang dihiasi bunga segar dan nyala lilin untuk melantunkan doa rosario.
Doa rosario di NTT dapat disebut sebagai nafas kehidupan. Ia adalah media curhat komunal kepada Bunda yang dipandang mampu memahami segala beban hidup.
Namun, di balik semaraknya devosi ini, sering kali muncul pertanyaan teknis namun fundamental: di tengah suasana sukacita Paskah yang biasanya jatuh bertepatan dengan bulan Mei, haruskah kita tetap terpaku pada urutan peristiwa Rosario yang standar, ataukah ada kewajiban untuk hanya merenungkan Peristiwa Mulia?
Pertanyaan mengenai kewajiban merenungkan Peristiwa Mulia selama bulan Maria yang bertepatan dengan masa Paskah perlu dijawab dengan membedakan antara aturan legalistik dan kepatutan liturgis.
Jika ditinjau dari sisi hukum Gereja, tidak ada perintah yang mewajibkan umat secara kaku untuk hanya mendaraskan peristiwa mulia setiap hari sepanjang bulan Mei.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Joaquin-De-Santos-Fahik-2.jpg)