Sabtu, 18 April 2026

Opini

Opini: Tongkat Ini Bukan Bagasi Tetapi Kaki Saya

Difabel adalah individu yang mampu berkarya, bekerja, dan berkontribusi dalam kehidupan masyarakat, selama lingkungan memberi akses setara. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI POLIKARPUS NUGA
Polikarpus Nuga 

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah sikap diam karena terbiasa melihat ketidakadilan sebagai suatu yang wajar. Padahal setiap sikap diam itu kita mulai membuka ruang bagi ketidakadilan untuk terus hidup.

Dalam konteks ini, kita bisa belajar dari lagu This Is Me yang menyimpan pesan bermakna bagi kita: setiap orang berhak diakui apa adanya. Difabel tidak meminta belas kasihan. 

Mereka hanya menuntut hak yang memang sudah seharusnya mereka miliki. Pesannya sederhana, tetapi mendasar: perbedaan bukan kelemahan, dan martabat manusia tidak boleh ditentukan oleh fisik.

Peristiwa ini seharusnya menjadi momentum evaluasi serius. Pelatihan bagi petugas tentang layanan inklusif tidak boleh hanya formalitas. Harus ada standar operasional yang benar-benar dipahami, serta mekanisme pengawasan yang tegas. 

Lebih dari itu, perspektif difabel perlu dihadirkan dalam penyusunan kebijakan, agar aturan tidak hanya benar di atas kertas, tetapi juga adil dalam praktik.

Di berbagai tempat praktik pelayanan inklusif sudah mulai dijalankan dengan baik. Ini menunjukkan bahwa perubahan bukan hal yang mustahil. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk melihat difabel sebagai manusia utuh, bukan sebagai pengecualian.

Pada akhirnya, kasus ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar kita bukan pada kurangnya aturan, melainkan pada belum tuntasnya pendidikan kewarganegaraan dalam membentuk manusia yang berkarakter Pancasila. 

Sebab menjadi warga negara yang baik bukan soal menaati aturan saja, tetapi juga tentang memperlakukan  sesama secara manusiawi. 

Peristiwa ini jelas bertentangan dengan sila kedua Pancasila, yang menuntut agar setiap manusia diperlakukan secara bermartabat tanpa diskriminasi. 

Maka pertanyaan bukan siapa lagi yang salah, tetapi apa yang bisa kita ubah. Apakah kita akan tetap diam, atau mulai membangun ruang yang lebih manusiawi bagi semua? 

Sebab menghormati difabel bukanlah tindakan belas kasihan, melainkan bentuk keadilan yang seharusnya menjadi dasar hidup bersama. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved