Opini
Opini: Merenungkan Makna Paskah di Tengah Konflik Mondial
Kalau masih hidup, siapakah sosok Allah yang diimani itu, sehingga mengizinkan umat-Nya membunuh sesama tanpa ada rasa iba?
Oleh: Poya Hobamatan
Imam Diosesan Keuskupan Pangkalpinang; tinggal di Bintan.
POS-KUPANG.COM -Walau sebentar lagi Umat Katolik akan bersukacita merayakan Paskah sebagai hari pembebasan, mengikuti saudaranya umat Muslim yang sudah mendahuluinya pekan silam, namun secara spiritual suasana batin tidak terlalu cerah untuk merayakan sukacita keselamatan itu, yang untuk meraihnya seseorang harus menempuh jalan pengudusan diri selama kurang lebih 40 hari.
Betapa tidak! Di saat kaum Muslimin dan kaum Nasrani memasuki masa sunyi untuk merenungkan hidup seraya merendahkan diri di hadapan Allah, dalam masa tobat, menuju pembaharuan diri supaya semakin manusiawi, selaras fitrah atau citra yang diberikan Allah kepada setiap manusia; dunia justru dikejutkan oleh wajah sangar tiga negara, Amerika, Israel dan Iran, yang saling beradu kekuatan dalam perang, bagai singa dan harimau lapar yang begitu lama tidak mendapat mangsa.
Baca juga: Opini: Paskah di Tengah Retakan Dunia
Perang yang berkecamuk dan mendatangkan kematian ribuan orang, bukan hanya menyedihkan dan mengotori kesucian bulan tobat untuk menyucikan diri, tetapi juga menggelisahkan serentak menimbulkan aneka pertanyaan.
Dari sisi antropogi muncul pertanyaan, masihkah budaya saling memangsa dilestarikan di sebuah era yang begitu mengagungkan kemanusiaan?
Kalau toh masih dianggap memiliki nilai untuk dilestarikan, bagaimana mempertanggungjawabkannya secara etis di tengah pertumbuhan peradaban yang telah membentuk manusia sebagai homo homini socius?
Bukankah perang, dengan segala peralatan canggihnya, sedang mempertontonkan sebuah cara penyelesaian konflik ala bar-bar dari animale rationale?
Dari sisi teologis, perang yang sangat melukai hari-hari suci tobat yang sedang dijalani kaum Muslimin dan kaum Nasrani ini, juga menimbulkan pertanyaan yang mengguncang iman: “Masih hidupkah Allah yang diimani oleh para pemimpin negera-negara ini, atau sejatinya sudah mati sebagaimana dikhayalkan Nietze?
Kalau masih hidup, siapakah sosok Allah yang diimani itu, sehingga mengizinkan umat-Nya membunuh sesama tanpa ada rasa iba?
Kalau toh Allah itu masih hidup, walau dengan penamaan yang berbeda-beda, mengapa kecanggihan teknologi yang merupakan wujud nyata kemajuan pengetahuan, tidak sanggup menciptakan bumi sebagai rumah bersama untuk dihuni anak-anak-Nya.
Sebaliknya bumi sekedar menjadi medan kamuflase untuk berlomba mengembangkan daya nalar demi melestarikan insting kebinatangan?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam refleksi di masa suci saat memasuki garis finish, karena masa suci tobat yang dijalani insan-insan Muslim dan Nasrani.
Refleksi dalam kekhusukan doa dan mati raga, sebagai upaya olah spiritual untuk memperbaiki citra demi merajut kembali hubungan dengan Allah dan dengan sesama.
Khususnya yang menderita dan teraniaya justru digunakan untuk mempertontonkan potret kehidupan yang justru bertentangan dengan kesucian masing-masing agama yang dianut para pemimpin tiga negara itu.
Seakan dijangkit oleh sadisme akut, negara-negara ini mengerahkan media-media sosial untuk memamerkan senjata-senjata pembunuh sebagai jalan untuk memproklamirkan naluri kuasa kepada pihak yang lemah, sambil mempersungging senyuman rasa bangga para pemimpin atas kekalahan pihak lawan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Poya-Hobamatan.jpg)