Cerpen
Cerpen: Tumbal
Sudah setahun ibu berpisah dengan kami untuk selamanya, urusan makan-minum di dalam rumah pun dilupakan begitu saja.
Waktu ibu masih hidup, bapak tak pernah pergi ke kebun siang bolong. Palingan waktu pagi, kalau tidak sore menjelang petang; saat matahari tak lagi memancarkan terik yang beringas. Namun, hari ini, langkahnya terburu-buru, seolah ada sesuatu yang mendesak.
Tiba-tiba bapak berhenti dan menyuruh aku mendahului langkahnya.
"Nanti kita berhenti di batu besar itu!" perintahnya tegas, bagai guntur yang sedang gemuruh. Suaranya menggema di antara pepohonan.
"Iya, pa," jawabku patuh, namun penuh ketakutan.
Aku heran. Tujuan kami dari rumah hanya mencari makanan babi, dan kebun masih jauh dari tempat ini. Lalu, mengapa bapak menyuruh aku berhenti dan bahkan naik di atas batu itu?
Bukankah batu besar itu yang pernah bapak ceritakan, bahwa di sana didiami banyak makhluk halus pemangsa darah segar?
Bukan hanya itu, ia juga selalu melarang kami berhenti atau naik di atasnya setiap kali pulang atau pergi ke kebun.
Konon katanya, seorang gadis pernah menghilang di sana saat mengambil foto. Ia lenyap dalam kesunyian bumi dan sampai sekarang jasadnya tak ditemukan. Tak ada yang tahu nasibnya, entah di mana ia berada.
"Pa... bukankah batu itu angker?" tanyaku dengan suara pelan.
Bapak terdiam lama. Matanya memerah bak darah segar yang menetes, membuat ekspresinya sulit terbaca.
Aku tak paham apa yang terjadi dengannya, tapi rasanya seperti dunia runtuh di hadapanku.
Aku menjadi takut, rasanya napasku tersengal. Karena itu, aku hanya taat dan tak bertanya lebih lanjut tentang batu besar itu.
Sebab, jika aku melawan, nyawaku akan melayang bagai daun kering yang ditiup angin.
"Cepat! Naik ke atas batu ini!" suruhnya. Suaranya menggelegar serupa panggilan dewa yang tak boleh ditolak.
Aku pun patuh, tanganku meraih tebing batu yang kasar dan kakiku melompati permukaannya dengan waspada. Ia segera menyusul. Langkahnya gesit.
Di puncak batu besar itu, bapak berdiri membelakangiku.
Bayangannya menutupi matahari yang samar. Ia mengeluarkan sebuah benda asing dari kantong celana. Benda itu berupa tengkorak berukuran buah ketapang.
Bapak menggenggam benda itu dengan erat, lalu mencium sekitar dua menit lamanya. Bibirnya menyentuh tulang-tulangnya seolah sedang berdoa.
Setelah itu, bapak membalutnya dengan sehelai kain merah terang, lalu diletakkan di atas dedaunan kering.
"Pa... itu apa?" tanyaku, penasaran sambil mengamati benda itu dengan mata terbelalak. Hatiku berdegup kencang.
"Tidak perlu kau tahu!" jawabnya sambil memarahiku. Tangannya seketika meraih sabit yang tadinya ia letakkan di samping benda itu.
Aku terdiam, tapi hatiku terus mempertanyakan benda itu. Rahasia apa yang bapak sembunyikan dariku? Aku tak pernah melihat benda itu di rumah.
Kenapa bapak menciumnya? Apakah itu harta karun yang dicuri dari makam leluhur? Atau sesuatu yang lebih gelap, seperti barang antik yang tak pantas diketahui anak-anak? Tidak... tidak...
Aku sempat teringat kejadian tiga hari setelah kematian ibu. Bapak pergi ke sebuah pondok dekat kali di belakang kampung. Pondok itu dikenali sebagai tempat sakral.
Orang-orang yang pernah pulang dari sana bilang bahwa jika melakukan ritual di tempat itu bisa mendatangkan kemakmuran. Barangkali bapak tertarik.
Namun, sebagai orang lainnya di kampung menganggap pondok itu sebagai
tempat keramat.
Orang yang pergi ke sana hanyalah orang yang mau belajar ilmu hitam. Bisa jadi bapak pergi ke sana kala itu untuk belajar ilmu hitam. Setiap kali melakukan ritual, harus membawa sesajian berupa darah segar.
Biasanya, masing-masing orang memiliki sesajian yang berbeda, tergantung permintaan sang dewa di pondok itu. Tak boleh dilanggar. Kalau mencoba melanggar, ada saja kejadian aneh yang terjadi.
Suatu sore sepulang dari pondok, bapak tiba-tiba demam tinggi. Hampir mati. Setelah dicari tahu, ternyata bapak mengikar janji dengan penghuni di pondok itu.
Bapak pernah meminta untuk bisa mendapat uang banyak, untuk melunasi utang tetangga waktu ibu jatuh sakit.
Tapi saat pergi ke pondok, bapak lupa membawa sesajian sesuai yang diminta. Penghuni di pondok itu menjadi murka. Untungnya bapak cepat meminta maaf dan berjanji segera membawakan sesajian yang lebih mulia.
Penghuni di pondok itu pun memaafkan bapak dan meminta harus membawakan darah segar dari salah satu anaknya. Aku adalah anak satu-satunya.
Terpaksa bapak menyepakati permintaan para penghuni di pondok itu, meski hatinya agak keberatan. Tak ikhlas. Sejak saat itu, bapak berubah.
Ia selalu keluar rumah tengah malam. Setiap kali ditanya, ia tak pernah memberikan jawaban yang jelas, dan terkadang tak menjawab sama sekali bila ditanya.
Meskipun bapak adalah orang yang keras, tetapi ia sangat berbeda. Ia tampaknya lebih patuh terhadap penghuni di pondok itu. Padahal, sewaktu ibu masih hidup, kami selalu berdoa di depan Salib Yesus sebelum istirahat malam.
Tapi kebiasaan itu sekarang tidak ada lagi. Bahkan, Salib Yesus di rumah itu sekarang telah hilang. Entah ke mana, aku juga tak tahu.
“Barangkali bapak sudah menukarnya dengan tengkorak ini,” gumamku dalam hati, sambil mengamati tengkorak yang dibalut dengan kain merah itu.
"Coba kau lihat pemandangan itu ke sana. Indah, bukan?" pinta bapak lembut. Suaranya ibarat melodi angin sepoi-sepoi yang mengusik telingaku. Terasa merdu meski penuh ketegangan.
"Iya pa... Tuhan menciptakannya dengan indah. Mungkin, Tuhan juga seindah ini," jawabku sambil menikmati keindahan yang terbentang. Mataku bercahaya menatap pepohonan hijau di kejauhan. Indah, sungguh....
"Bukan! Ini bukan ciptaan Tuhan, tapi ini..." ujarnya. Suaranya berubah drastis, menjadi rendah dan penuh rahasia.
"Kalau bukan Tuhan, lalu ini ciptaan siapa?" jawabku penasaran, lalu menoleh ke arahnya sedikit curiga.
Saat aku menoleh ke arahnya, sabit di tangan kirinya tiba-tiba memenggal leherku dari belakang. Napasku tersengal dan percikan darah membuncah.
Barangkali tak puas, ia menambah satu tusukan ke perutku. Ketika tubuhku lemah dan tak berdaya, ia melemparkan tubuhku ke dalam jurang.
"Terima kasih nak. Utangku terbayar tuntas," ujarnya dengan suara nyaring, sambil tertawa.
Sebelum aku menghembuskan napas yang tersisa, lega tawa bapak semakin menggema, mengalahkan suara angin yang mulai bertiup kencang. Awan pun pecah mendatangkan hujan bak darah turun dari langit.
Titisannya seolah membasahi bumi yang haus, sekaligus mencuci jejak kejahatan yang baru saja terjadi. Darahku meleleh, menghanguskan segala tumpukan utang bapak. (*)
*) Krisogonus Kusman, biasa disapa Gonsi atau Gogon adalah seorang mahasiswa Filsafat semester VI pada Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Gonsi merupakan seorang calon imam misionaris religius dalam Serikat Sabda Allah (SVD). Selama di Ledalero, Gonsi suka membaca dan
menulis sastra, khususnya cerpen.
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-pria-marah.jpg)