Jumat, 24 April 2026

Cerpen

Cerpen: Mbak Erna

Pesan itu terukir dalam hati Mbak Erna, membuatnya memilih hidup lajang di usia yang seharusnya sudah membangun keluarga baru. 

|
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN META AI
ILUSTRASI 

Oleh: Krisogonus Kusman *

POS-KUPANG.COM - Dalam keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. 

Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus, adik ketiga kelas X, dan adik keempat kelas VIII yang sebentar lagi masuk SMA. Mbak Erna bekerja sebagai guru honorer di sebuah SD negeri. 

Usianya tahun ini mendekati 30 tahun, tapi ia belum memikirkan pernikahan. Ia menjadi tulang punggung keluarga sejak ayahnya meninggal dunia saat ia berada di semester akhir kuliah. 

Ayahnya dibunuh atas suruhan kakak kandungnya sendiri, yang iri karena Mbak Erna bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. 

Baca juga: Cerpen: Sepatu Kesayangan

Sejak itu, ibunya sering jatuh sakit, terutama serangan jantung. Sebagai anak sulung, Mbak Erna menanggung semua kebutuhan keluarga, termasuk biaya pengobatan ibu dan sekolah ketiga adiknya.

Beberapa hari sebelum kematian ayahnya, ia sempat menerima pesan terakhir: "Jangan menikah dulu sebelum adik keduamu menyelesaikan kuliah." 

Pesan itu terukir dalam hati Mbak Erna, membuatnya memilih hidup lajang di usia yang seharusnya sudah membangun keluarga baru. 

Namun, pesan itu tak sebanding dengan gajinya sebagai guru honorer; hanya empat ratus lima puluh ribu sebulan. 

Uang itu tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Biayai sekolah adik-adiknya, jangan tanya lagi. 

Sangat tidak cukup. Setiap hari, Mbak Erna memilih berjalan kaki ke sekolah meski jaraknya jauh, agar tak ada pengeluaran untuk transportasi.

Hari-hari berlalu seperti biasa. Mbak Erna tak putus asa meski beberapa kali gagal tes pegawai negeri. 

Ia tetap setia mengajar demi keluarga, walaupun pemerintah tak peduli pada nasib guru honorer seperti dirinya. 

Dari gaji yang pas-pasan itu, ia menyisihkan sebagian kecil untuk ditabung dalam celengan, mempersiapkan adik keduanya masuk kuliah. 

Tapi di pertengahan bulan, ibunya tiba-tiba drop. Mbak Erna dan adik-adiknya buru-buru membawanya ke puskesmas terdekat. Kondisi ibunya kritis, sehingga dirujuk ke rumah sakit umum di kota. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved