Cerpen
Cerpen: Tumbal
Sudah setahun ibu berpisah dengan kami untuk selamanya, urusan makan-minum di dalam rumah pun dilupakan begitu saja.
Terlambat sedetik, cambuk siap melecut bokong atau punggung, lalu meninggalkan bekas luka yang dalam. Begitulah didikannya.
Di rumah, bapak semacam tiran tak terkalah. Tak boleh ada orang yang membantah kata-katanya dan tak boleh lalai misi yang sedang diimpikannya.
Bagi bapak, hidup santai menjadi pemali bagi keluarga, apalagi coba-coba bermalas-malasan. Hidup tak selaras aturannya berarti cari mati.
Bekerja menjadi nomor satu dan segalanya. Literasi? Hanya bayang di tepi jalan yang diabaikan. Barangkali dipandang laksana debu yang beterbangan tanpa arti.
Langit siang bolong tiba-tiba muram, tak seperti hari-hari sebelumnya yang cerah dan tenang. Di bagian timur kampung, awan merayap bagai asap duka yang menyesakkan dada.
Nenek dulu pernah bilang, jika awan mulai bertengger di tepi timur, itu tandanya hujan akan segera mendekat, membawa kesuburan atau bencana.
Aku percaya karena kala itu aku masih kecil dan tak sanggup menganalisa fenomena alam.
Pengalaman nenek kala itu masih meresap hingga kini di pikiran orang sekampung, seolah ramalan nenek sungguh benar adanya.
Namun, hari ini, pikiranku mulai ragu tentang prediksi nenek soal mendung itu. Bukankah hujan adalah rahasia Tuhan, tak terprediksi oleh manusia biasa?
Lagian, nenek tak berpendidikan dan tak pernah belajar ilmu tafsir atau geologi modern. Lalu, bagaimana ia memahami misteri langit seluas itu?
Mendung merangkak lebih dekat, menutupi pancaran matahari. Tapi bapak tak gentar, kakinya melangkah tegap meski kebun masih jauh, tiga puluh menit berjalan kaki.
Hujan pun belum meneteskan airnya, padahal awan pekat telah menyelimuti hamparan langit biru.
Dengan ayunan kaki yang cepat, hati bertanya: "Apakah hujan yang nenek maksudkan itu sebuah kiasan?
Barangkali, hujan yang dimaksudkan adalah air mata duka yang tak kunjung reda, atau pertanda akhir dari siklus kehidupan?"
Kebingungan semakin mencengkram pikiranku ketika melihat perubahan total dalam diri bapak. Ia tak seperti biasanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-pria-marah.jpg)