Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Hadir, Pak yang Dibalas Caci Maki?

Pihak kampus terkait juga telah menyebut peristiwa ini sebagai catatan buruk yang akan segera dievaluasi. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DANANG N RUSWANTARA
Danang Novika Ruswantara 

Menggugat Etika Dosen serta Relasi Kuasa di Ruang Kelas Daring

Oleh: Danang Novika Ruswantara 
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Undana Kupang yang juga praktisi di bidang komunikasi strategis. Sebelum menjadi akademisi, penulis memiliki pengalaman lebih dari 11 tahun di industri transportasi (KAI), khususnya di bidang kehumasan, komunikasi publik, media sosial dan pembuatan konten, serta manajemen krisis.

POS-KUPANG.COM - “Hadir, Pak.” Kalimat itu biasanya terdengar sangat sederhana serta bersifat formal. Ia merupakan jawaban absensi yang diucapkan oleh ribuan mahasiswa setiap hari dan menjadi penanda otomatis bahwa seseorang ada di sana untuk belajar. 

Tidak ada emosi yang berlebih maupun drama yang menyertai ucapan tersebut karena ia hanyalah sebuah prosedur rutin dalam dunia akademik.

Namun dalam sebuah sesi kelas daring pada salah satu perguruan tinggi negeri di Nusa Tenggara Timur tanggal 22 April 2026 yang lalu, kalimat itu berubah menjadi pemicu krisis komunikasi yang serius. 

Baca juga: Opini: Satgas PPKPT- Fondasi Pencegahan Kekerasan di Kampus Nusa Tenggara Timur

Saat seorang mahasiswa menjawab ketika diabsen, balasan yang ia terima sungguh mengejutkan serta mungkin melukai martabat. Sang dosen justru menyahut dengan kalimat yang sangat kasar dan berbunyi, “Iya manusia bodoh, tinggalkan kelas saya.”

Kejadian tersebut tidak berhenti di sana. Pada momen lain ketika mahasiswa lain mencoba merespons, sang dosen kembali melontarkan kata yang tidak pantas dengan bertanya, “Kamu di mana binatang.” 

Rentetan kalimat itu kini bukan lagi sekadar bisik-bisik di korong kampus karena ia telah terekam lewat fitur rekam layar serta menyebar luas ke jagat media sosial dalam hitungan jam. 

Seperti hampir semua jejak digital lainnya, ia tidak akan pernah bisa ditarik kembali begitu saja.

Ketika Kelas Bukan Lagi Tempat yang Aman

Hal pertama yang mencolok dari peristiwa ini bukan hanya terletak pada pilihan katanya saja. 

Perhatikan bagaimana reaksi para mahasiswa yang menerima caci maki tersebut karena mereka tetap menjawab dengan tenang serta tetap berkata “Hadir, Pak.” 

Mereka tidak membantah maupun tidak meninggalkan ruang pertemuan virtual tersebut karena mereka memilih untuk tetap patuh meski dalam kondisi tertekan.

Di permukaan, tindakan ini mungkin terlihat seperti sebuah kedisiplinan yang luar biasa. Namun dalam kacamata komunikasi, ini adalah sebuah bentuk kepatuhan yang dipaksakan oleh rasa takut. 

Mahasiswa menyadari posisi mereka yang sangat rentan serta mereka tahu siapa yang memegang otoritas nilai serta kelulusan mereka.

Diamnya mahasiswa di ruang kelas daring bukan selalu tanda dari sebuah persetujuan melainkan sering kali merupakan strategi bertahan yang paling aman. Inilah yang kita sebut sebagai relasi kuasa yang tidak seimbang dalam dunia pendidikan.  

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved