Cerpen
Cerpen: Tumbal
Sudah setahun ibu berpisah dengan kami untuk selamanya, urusan makan-minum di dalam rumah pun dilupakan begitu saja.
"Luky, cepat!" teriak bapak dari teras. Suaranya geram laksana serigala yang mengaum mencari mangsa. Suaranya menggetarkan dada.
Belum sempat mulutku menjawab "ya", langkahku sudah melesat menghampirinya.
"Kita ke mana, pa?" tanyaku lirih. Ucapanku itu penuh hati-hati seperti seekor kucing kehujanan yang gemetar di tepi jurang.
"Kebun!" jawabnya ketus.
"Bukankah ini masih siang bolong? Bagaimana kalau sebentar sore saja?"
Mata bapak seketika membara bagai bara api. Tatapannya menusuk penuh amarah ketika mendengar ucapanku, seolah kutukan akan segera mendekat.
"Kau mau melawan?"
"Tidak, pa," jawabku sambil menggarukkan kepala. Suaraku pelan seperti bisikan angin malam.
Nyaliku menciut, melihat wajahnya garang seperti singa yang terluka parah. Ucapanku tadi seolah dosa maut yang mencekam jiwa.
Padahal, aku hanya ingin bernegosiasi, bukan memberontak. Sebagai anak, aku tahu tempatku. Di bawah bayang bapak, tak boleh melampaui batas.
Hukum alamnya begitu; anak harus selalu taat tmeski bapak otoriter. Tapi apakah seorang anak tidak boleh memberi saran kepada orang tuanya? Apakah memang saran seorang anak dianggap haram?
Aku tak punya pilihan lain selain menurut pada bapak. Aku tunduk lesu di bawah sorot matanya yang menusuk seperti tombak.
Sebagai seorang anak, aku hanya selalu siaga bagai budak yang tak berdaya dan lidah pun dibiarkan terikat ketakutan.
Saking gugup, aku gagap. Bahkan aku lupa menelan air sehabis makan. Remah nasi masih menggantung di dagu seperti burung gereja terjebak di ranting kering.
Aku memilih kehausan daripada mendapat murka bapak. Bapak memang seorang yang keras dan disiplin hidupnya setajam belati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-pria-marah.jpg)