Sabtu, 2 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Sepatu Kesayangan

Barangkali begitulah tipe manusia yang enggan berpikir, tapi mudah menilai. Seperti Alex, melihat sekilas lalu menghakimi seketika. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN META AI
ILUSTRASI 

Oleh: Krisogonus Kusman *

POS-KUPANG.COM - “Aku sangat menyayangi sepasang sepatu ini,” kataku sambil mendekap erat di dada, seolah membiarkannya merasakan jantung yang berdetak pelan.

“Sepatu kumal begini masih dibilang sayang?” Alex tertawa tipis. Tatapannya berpusat pada sepasang sepatu yang baru saja aku angkat dari tiang jemuran. 

Memang, sepasang sepatu itu kelihatan tak menarik dipandang oleh siapa pun, termasuk Alex. 

Warna hitam pekatnya telah pudar termakan usia. Sebagian kulitnya sudah terkelupas oleh waktu membuat tampilannya tampak usang. Tapi, aku masih sangat menyayanginya. Ia adalah teman lama yang begitu setia.

Baca juga: Cerpen: Si Gadis dan Merah-Putih

“Bukan soal kumal kes,[1]” jawabku lirih, senyum tipis terukir di bibir.

“Lalu apa!” 

“Sepasang sepatu ini punya sejarah.”

“Ah...omong kosong. Sepasang sepatu kumal begini ada sejarahnya?” 

Alex menggeleng, tak percaya. Sepasang sepatu kesayangan itu seperti sesuatu yang mustahil. Baginya, sepasang sepatu itu tak layak dipakai oleh anak muda seumur kami. 

“Buang saja. Kalau tidak, beri saja kepada para pemulung di TPA[2] Nangarasong,” katanya dengan nada sinis.

“Tak apa. Kalau pun dibilang kumal, aku tetap memakainya.”

“Terserah kau. Aku malas berdebat dengan orang yang tak punya selara seni macam kau,” balas Alex dengan suara datar. Ia berbalik, menghilang ke dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamarku.

Alex menilai sepasang sepatu itu dari tampilan luarnya saja. Ia tak pernah bertanya berapa usianya. Beli di mana. 

Pemberian siapa. Harga berapa. Yang ia tahu adalah sepasang sepatu kumal dan tak layak dipakai.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved