Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: Mengapa Donald Trump Seperti Ini?

Tiongkok berhasil masuk ke jantung pasar dunia, dan kini, saat pengaruh mereka mulai mencekik, muncul sosok Donald Trump. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
TANGKAPAN LAYAR YT FOX 35 ORLANDO
Presiden AS, Donald Trump pada acara pelantikannya di Washington DC Amerika Serikat, Senin (20/1/2025). 

Jika dunia berpaling dari Dolar, imperium ini tidak akan runtuh di medan perang, melainkan di lantai bursa karena kebangkrutan.

Persoalan Domestik AS

Persoalan geopolitik kemudian mengerucut ke masalah domestic AS. Di dalam negeri, Trump memandang birokrasi sebagai penghambat utama tindakan cepat. 

Melalui instrumen seperti Schedule F dalam Project 2025, ada upaya sistematis untuk merombak pegawai sipil karier menjadi loyalis presiden. 

Ini adalah penerapan teori komunisme, di mana dalam kondisi krisis, kekuasaan presiden harus mutlak.

Bagi para pendukungnya, ini adalah efisiensi demi kelangsungan hidup imperium. Bagi para pengkritiknya, ini adalah lonceng kematian bagi demokrasi liberal dan kelahiran sosok "Kaisar" di tanah Amerika. 

Trump percaya bahwa untuk menyelamatkan benteng, sistem demokrasi yang lambat harus diganti dengan kendali satu tangan yang tegas. 

Ini adalah ironi terbesar bagi negara yang selalu mengkampanyekan hingga menumbangkan rezim demi demokrasi.

Posisi Indonesia

Di tengah pertarungan antara gajah dan naga ini, Indonesia berada dalam posisi yang sangat dilematis. 

Tiongkok adalah mitra dagang utama yang menyerap komoditas nikel dan batu bara kita. Namun, Amerika masih menjadi jangkar sistem keuangan yang menentukan stabilitas rupiah.

Dunia lama yang stabil karena globalisasi telah berakhir. Kita kini memasuki era di mana setiap transaksi dagang adalah peluru dalam perang dingin gaya baru. 

Bagi Indonesia, serangan AS-Israel ke Iran dan agresivitas Trump terhadap Tiongkok adalah alarm bahaya. 

Kenaikan harga minyak dunia akibat penutupan selat Hormuz dan eskalasi konflik Timur Tengah akan menekan APBN kita.

Kita tidak lagi berada di era "mendayung di antara dua karang" sebagaimana dasar dari politik bebas aktif. 

Pertama karena karena karang bukan lagi dua tetapi multipolar. Kedua, karang-karang tersebut kini sedang bergerak untuk saling menghancurkan. 

Indonesia harus memperkuat ketahanan energi dan pangan domestik secepat mungkin, sambil tetap menjaga netralitas yang aktif. 

Di dunia di mana setiap transaksi adalah peluru, kedaulatan bukan lagi pilihan, melainkan syarat untuk bertahan hidup.

Donald Trump adalah pengingat bahwa di balik retorika demokrasi, kepentingan nasional yang brutal tetap menjadi hukum tertinggi dalam politik internasional. (*)

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved