Senin, 18 Mei 2026

Opini

Opini: Kolonialisme Modern

Film dapat menjadi medium memahami krisis kemanusiaan. Sinema bukan sekadar industri hiburan komersial. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Kolonialisme modern tidak lagi hadir melalui perang terbuka. Ia bergerak melalui pasar global, budaya konsumsi, dan teknologi digital. 

Manusia merasa bebas, tetapi hidup dalam kendali sistem. Film Pesta Babi membaca situasi itu secara gelap dan simbolik. 

Pada saat sama, karya dokumenter Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale memperlihatkan eksploitasi tanah dan tubuh rakyat secara nyata. Sinema akhirnya menjadi ruang kritik atas krisis empati sosial modern.

Luka Kuasa

Kolonialisme tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti wajah. Dahulu penjajahan hadir melalui tentara dan senjata. Kini kuasa bergerak lewat ekonomi global dan budaya populer. 

Tubuh manusia menjadi arena perebutan kuasa modern. Film ini membaca perubahan itu secara tajam dan emosional.

Baca juga: Opini: NTT Darurat Kesehatan Jiwa- Mematahkan Sunyi, Menyelamatkan Nyawa

Dalam film, pesta tampil sebagai metafora kekuasaan sosial. Elite menikmati kemewahan di tengah penderitaan rakyat kecil. Mereka yang lemah menjadi objek permainan sistem. Situasi itu mengingatkan sejarah kolonial Nusantara. 

Bentuk penjajahan berubah, tetapi logika kuasanya tetap sama. Kekerasan tampil banal, dingin, dan tampak biasa. Tidak ada heroisme. Ketegangan lahir dari relasi sosial yang timpang. 

Penonton diajak melihat luka di balik kemewahan. Kekuasaan bekerja perlahan dan terlihat wajar. Di situlah kritik sosial film terasa kuat.

Sinema akhirnya menjadi medium refleksi sosial. Film tidak sekadar menawarkan hiburan visual. Ia membuka ruang membaca ulang realitas masyarakat. 

Penonton dipaksa melihat ketimpangan secara dekat. Banyak luka sosial selama ini disembunyikan. Film menghadirkannya kembali ke ruang publik.

Tubuh Kapital

Dalam masyarakat modern, tubuh manusia menjadi komoditas ekonomi. Nilai manusia diukur dari fungsi produktif semata. Relasi sosial bergerak mengikuti logika pasar global. 

Kapitalisme bekerja melalui eksploitasi tenaga dan hasrat manusia. Buruh kecil tetap hidup dalam posisi rentan. 

Ketimpangan sosial terus diproduksi secara sistematis. Film menangkap kecemasan itu lewat simbol dan atmosfer psikologis. 

Kekerasan tampil biasa, tetapi sangat politis. Tubuh menjadi objek yang dipakai lalu dibuang. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved