Opini
Opini: Mengapa Donald Trump Seperti Ini?
Tiongkok berhasil masuk ke jantung pasar dunia, dan kini, saat pengaruh mereka mulai mencekik, muncul sosok Donald Trump.
Oleh: Irvan Kurniawan
Youtuber yang fokus mengulas geostrategi di balik kebijakan nasional dan dinamika geopolitik dunia.
POS-KUPANG.COM - Mengapa Trump seperti ini? Jawabannya panjang dan kompleks. Semua ini bermula pada 11 Desember 2001.
Saat itu, Washington merayakan masuknya Tiongkok ke dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dengan asumsi bahwa kapitalisme akan menjinakkan komunisme.
Namun, sejarah mencatat diagnosa itu meleset total. Tiongkok tidak menjadi demokratis. Mereka justru menggunakan akses pasar global untuk membangun ekonomi, kekuatan militer dan teknologi yang kini mengancam supremasi AS.
Hari itu bukan sekadar perayaan kapitalisme global, melainkan awal dari apa yang kini dianggap banyak pengamat sebagai awal kebangkrutan dominasi Barat.
Baca juga: Iran Ketar Ketir, , Donald Trump Hubungi Xi Jinping, Minta China Putus Hubungan dengan Teheran
Tiongkok berhasil masuk ke jantung pasar dunia, dan kini, saat pengaruh mereka mulai mencekik, muncul sosok Donald Trump.
Dalam kacamata sejarah, Trump bukanlah sekadar sumber masalah melainkan ekspresi darurat dari sebuah imperium yang sedang terdesak dan nyaris bangkrut.
Paradoks Globalisme
Untuk memahami fenomena Trumpisme, kita harus menelaah doktrin Tao Guang Yang Hui "sembunyikan cahaya, pupuk kegelapan" yang diwariskan Deng Xiaoping.
Selama dua dekade, Barat terbuai oleh narasi bahwa liberalisasi ekonomi secara otomatis akan melahirkan demokratisasi politik di Tiongkok.
Bill Clinton pernah berkelakar bahwa upaya Beijing mengontrol internet seperti "memaku agar-agar ke dinding." Pasti jatuh.
Namun, sejarah membuktikan sebaliknya. Tiongkok memainkan peran sebagai pabrik dunia dengan ekspansi tinggi.
Di bawah Xi Jinping, topeng itu kini lepas. Surplus perdagangan yang dulu dianggap keuntungan bersama, telah menjelma menjadi otot militer yang menantang hegemoni Amerika di Pasifik.
Donald Trump hadir sebagai reaksi panik. Ia adalah manifestasi dari kesadaran bahwa kuda Troya sudah berada di dalam benteng.
Strateginya bukan lagi diplomasi biasa, melainkan kebijakan bumi hangus terhadap tatanan lama yang dibungkus dalam satu kata: Panik.
Perang Nanometer dan Kedaulatan Energi
Geopolitik abad ke-21 tidak lagi diukur hanya dengan barel minyak, melainkan dalam satuan nanometer.
Semikonduktor telah menjadi "Tuhan baru" yang menggerakkan segalanya, dari medsos hingga sistem kendali rudal nuklir.
Kerapuhan Amerika terletak pada rantai pasok. Jet tempur F-35, simbol supremasi udara Pentagon, nyatanya memiliki ketergantungan kronis pada komponen mikroprosesor yang diproduksi di Asia, wilayah yang secara geografis rentan terhadap pengaruh Beijing.
Trump memahami ini sebagai ancaman eksistensial. Upayanya memutus akses teknologi Tiongkok adalah upaya sistematis untuk memaksa penantang kembali ke zaman batu digital.
Di sisi lain, energi tetap menjadi titik lemah Tiongkok yang mengimpor 73 persen kebutuhan minyaknya.
Melalui kebijakan yang agresif di Venezuela dan tekanan terhadap Iran, Trump mencoba memastikan bahwa "keran" energi dunia tetap berada dalam genggaman Washington.
Agresivitas Trump yang terbaru, terlihat dari dukungan penuh terhadap operasi militer Amerika-Israel ke jantung pertahanan Iran. Ini bukan sekadar masalah dendam ideologis.
Bagi Amerika, ini adalah kalkulasi geopolitik. Iran adalah pemasok energi utama bagi Tiongkok dengan menyerap lebih dari 80 persen hingga 90?ri total ekspor minyak Iran.
Dengan melumpuhkan Teheran, Trump sedang melakukan operasi pemotongan energi dan logistik ke Tiongkok.
Venezuela pun demikian. Maduro diculik karena sudah menekan perjanjian utang dengan China. Venezuela tidak membayar utang China pakai uang, tetapi pakai minyak mentah atau skema oil for loan.
China adalah tujuan utama minyak Venezuela, dengan total ekspor mencapai 144 juta barel pada 2023, mencakup sekitar 68?ri total ekspor minyak mentah negara Amerika Selatan tersebut.
Dolar sebagai Senjata Massal
Senjata terkuat Amerika bukanlah hulu ledak nuklir, melainkan sistem pembayaran global berbasis Dolar. Namun, senjata ini mulai tumpul akibat terlalu sering digunakan sebagai instrumen sanksi.
Pembekuan aset Rusia sebesar 300 miliar dolar pada 2022 menjadi lonceng peringatan bagi dunia bahwa tidak ada aset yang aman jika politik tidak sejalan dengan Washington.
Gejala dedolarisasi yang digerakkan oleh blok BRICS (Tiongkok, Rusia, India, dkk) melalui sistem pembayaran lintas bank adalah ancaman nyata terhadap keberlangsungan utang raksasa AS.
Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) sebenarnya adalah sistem pembayaran milik China yang diluncurkan pada 2015, namun kini telah menjadi tulang punggung finansial bagi blok BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada sistem SWIFT milik Barat.
Trump kini berkejaran dengan waktu. Ia harus melumpuhkan ekonomi pesaing sebelum dunia benar-benar berhenti membiayai defisit Amerika.
Jika dunia berpaling dari Dolar, imperium ini tidak akan runtuh di medan perang, melainkan di lantai bursa karena kebangkrutan.
Persoalan Domestik AS
Persoalan geopolitik kemudian mengerucut ke masalah domestic AS. Di dalam negeri, Trump memandang birokrasi sebagai penghambat utama tindakan cepat.
Melalui instrumen seperti Schedule F dalam Project 2025, ada upaya sistematis untuk merombak pegawai sipil karier menjadi loyalis presiden.
Ini adalah penerapan teori komunisme, di mana dalam kondisi krisis, kekuasaan presiden harus mutlak.
Bagi para pendukungnya, ini adalah efisiensi demi kelangsungan hidup imperium. Bagi para pengkritiknya, ini adalah lonceng kematian bagi demokrasi liberal dan kelahiran sosok "Kaisar" di tanah Amerika.
Trump percaya bahwa untuk menyelamatkan benteng, sistem demokrasi yang lambat harus diganti dengan kendali satu tangan yang tegas.
Ini adalah ironi terbesar bagi negara yang selalu mengkampanyekan hingga menumbangkan rezim demi demokrasi.
Posisi Indonesia
Di tengah pertarungan antara gajah dan naga ini, Indonesia berada dalam posisi yang sangat dilematis.
Tiongkok adalah mitra dagang utama yang menyerap komoditas nikel dan batu bara kita. Namun, Amerika masih menjadi jangkar sistem keuangan yang menentukan stabilitas rupiah.
Dunia lama yang stabil karena globalisasi telah berakhir. Kita kini memasuki era di mana setiap transaksi dagang adalah peluru dalam perang dingin gaya baru.
Bagi Indonesia, serangan AS-Israel ke Iran dan agresivitas Trump terhadap Tiongkok adalah alarm bahaya.
Kenaikan harga minyak dunia akibat penutupan selat Hormuz dan eskalasi konflik Timur Tengah akan menekan APBN kita.
Kita tidak lagi berada di era "mendayung di antara dua karang" sebagaimana dasar dari politik bebas aktif.
Pertama karena karena karang bukan lagi dua tetapi multipolar. Kedua, karang-karang tersebut kini sedang bergerak untuk saling menghancurkan.
Indonesia harus memperkuat ketahanan energi dan pangan domestik secepat mungkin, sambil tetap menjaga netralitas yang aktif.
Di dunia di mana setiap transaksi adalah peluru, kedaulatan bukan lagi pilihan, melainkan syarat untuk bertahan hidup.
Donald Trump adalah pengingat bahwa di balik retorika demokrasi, kepentingan nasional yang brutal tetap menjadi hukum tertinggi dalam politik internasional. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/DONALD-TRUMP-PRESIDEN-KE-47-AS_1.jpg)