Selasa, 19 Mei 2026

Opini

Opini: NTT Darurat Kesehatan Jiwa- Mematahkan Sunyi, Menyelamatkan Nyawa

Negara tidak boleh absen bagi jiwa-jiwa yang sedang terluka. Hak kesehatan jiwa harus diperlakukan setara dengan hak kesehatan fisik.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Winston Rondo 

Oleh: Winston Neil Rondo
Ketua DPD GAMKI NTT dan aktif dalam berbagai advokasi sosial serta kebijakan publik di Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Di balik keelokan lanskap Flobamora yang kita banggakan, sebuah “pandemi sunyi” tengah merayap masuk ke kamar-kamar anak muda kita, ruang tamu keluarga kita, hingga bilik-bilik perkantoran. 

Ia tidak datang dengan gejala demam atau batuk, melainkan hadir dalam keheningan yang mematikan.

Saat kita sibuk berdebat tentang pembangunan fisik dan angka pertumbuhan ekonomi, jeritan tanpa suara dari mereka yang berdiri di tepi jurang keputusasaan sering kali luput dari pendengaran kita.

Baca juga: Opini: Menolak Menjadi Asing di Tanah Sendiri

Podcast OreLa TV GAMKI NTT baru-baru ini kembali mengingatkan kita pada satu kenyataan pahit: bunuh diri bukan sekadar angka statistik yang singgah di meja redaksi berita, melainkan cermin kegagalan sosial kita dalam mendengar penderitaan yang disembunyikan. 

Narasi “Stop Diam” yang kami usung melalui kampanye GAMKI NTT adalah antitesis dari budaya “pendam sendiri” yang selama ini perlahan membunuh banyak orang dalam sunyi.

Alarm keadaan darurat itu sesungguhnya sudah lama berbunyi.

Data Riskesdas menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional di Nusa Tenggara Timur pernah mencapai 15,7 persen—salah satu yang tertinggi di Indonesia. 

Meski data terbaru yang komprehensif belum banyak tersedia, berbagai kasus bunuh diri dan krisis kesehatan mental yang terus muncul di ruang publik menunjukkan bahwa persoalan ini belum membaik.

Kasus mahasiswa di Kupang maupun siswa di pelosok Flores yang belakangan viral hanyalah puncak gunung es dari ribuan orang yang mungkin sedang berjuang diam-diam melawan depresi, kesepian, tekanan sosial, perundungan, luka keluarga, hingga keputusasaan hidup.

Yang lebih menyedihkan, sebagian besar dari mereka tidak mendapatkan layanan profesional yang memadai. 

Banyak yang memilih diam karena takut dicap lemah, dianggap “kurang iman”, atau dipandang memalukan keluarga. Akibatnya, terlalu banyak orang akhirnya tenggelam sendirian dalam sunyi.

Ironisnya, di masyarakat yang dikenal religius dan komunal seperti NTT, terlalu banyak orang justru merasa sendirian ketika mengalami krisis batin.

Kita juga perlu jujur melihat kenyataan sosial kita sendiri. Banyak anak muda, terutama laki-laki, dibesarkan dalam budaya yang menganggap menangis sebagai kelemahan dan bercerita sebagai aib. 

Mereka diajarkan untuk terlihat kuat, padahal di dalam dirinya sedang rapuh. Akibatnya, tidak sedikit yang kehilangan kemampuan meminta pertolongan ketika hidup mulai terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved