Opini
Opini: Basilius Agung di Era Globalisasi
Gereja yang berpartisipasi dalam budaya dengan kritis dan kreatif adalah Gereja yang setia pada misi inkarnasi.
Menghidupkan Kembali Tanggung Jawab Sosial Gereja
Oleh: Sr. Redegundis Kesa, FAdM
Mahasiswi Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, Gereja menghadapi tantangan yang kompleks dan multidimensi.
Justru di saat seperti inilah kita perlu kembali menggali kekayaan ajaran para Bapa Gereja dan tradisi masa lampau.
Salah satu tokoh yang memberikan teladan luar biasa adalah Santo Basilius Agung (329-379 M), uskup dari Kapadokia yang berhasil mengintegrasikan iman dengan realitas sosial budaya zamannya.
Baca juga: Opini: Menolak Menjadi Asing di Tanah Sendiri
Tulisan ini akan merefleksikan tiga hal penting yang dapat dipelajari untuk kehidupan Gereja masa kini: partisipasi kritis-kreatif dalam budaya, tanggung jawab sosial di era globalisasi, dan keterbukaan terhadap Allah Pencipta sebagai fondasi membangun dunia yang lebih adil dan bersaudara.
Partisipasi Kritis-Kreatif dalam Budaya Zaman
Pertama, Gereja dipanggil untuk berpartisipasi dalam budaya zaman sekarang dengan penuh minat, kritis, dan kreatif.
Sikap ini bukanlah kompromi terhadap nilai-nilai Injil, melainkan bentuk inkarnasi iman yang relevan dalam konteks kekinian.
Gereja tidak boleh kehilangan fokus pada ajaran inti tentang Kristus, namun juga perlu memastikan bahwa ajaran tersebut dapat diakses dan dipahami oleh orang-orang zaman sekarang.
Santo Basilius Agung memberikan teladan dalam hal ini. Ia dikenal berhasil mengintegrasikan kebudayaan klasik Yunani-Romawi ke dalam agama Kristen tanpa kehilangan identitas imannya.
Sebagai seorang orator ulung, Basilius memanfaatkan kemampuan retorika yang dipelajarinya dari pendidikan terbaik di dunia kuno untuk mewartakan Injil.
Ia tidak menolak budaya yang ada pada masanya, tetapi justru terlibat secara mendalam, mengkritisi, dan mentransformasikannya dengan terang iman Kristen.
Di era modern ini, Gereja menghadapi tantangan serupa namun dalam konteks yang berbeda.
Penggunaan budaya, terutama dalam bentuk musik dan teknologi, dapat membuat kebaktian gereja lebih relevan dan menarik bagi generasi muda.
Gereja yang mampu beradaptasi dengan cepat akan lebih baik dalam memenuhi kebutuhan jemaat dan masyarakat di tengah perubahan yang pesat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Redegundis-Kesa.jpg)