Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: Mengapa Donald Trump Seperti Ini?

Tiongkok berhasil masuk ke jantung pasar dunia, dan kini, saat pengaruh mereka mulai mencekik, muncul sosok Donald Trump. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
TANGKAPAN LAYAR YT FOX 35 ORLANDO
Presiden AS, Donald Trump pada acara pelantikannya di Washington DC Amerika Serikat, Senin (20/1/2025). 

Oleh: Irvan Kurniawan
Youtuber yang fokus mengulas geostrategi di balik kebijakan nasional dan dinamika geopolitik dunia. 

POS-KUPANG.COM - Mengapa Trump seperti ini? Jawabannya panjang dan kompleks. Semua ini bermula pada 11 Desember 2001. 

Saat itu, Washington merayakan masuknya Tiongkok ke dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dengan asumsi bahwa kapitalisme akan menjinakkan komunisme. 

Namun, sejarah mencatat diagnosa itu meleset total. Tiongkok tidak menjadi demokratis. Mereka justru menggunakan akses pasar global untuk membangun ekonomi, kekuatan militer dan teknologi yang kini mengancam supremasi AS.

Hari itu bukan sekadar perayaan kapitalisme global, melainkan awal dari apa yang kini dianggap banyak pengamat sebagai awal kebangkrutan dominasi Barat. 

Baca juga: Iran Ketar Ketir,  , Donald Trump Hubungi Xi Jinping, Minta China Putus Hubungan dengan Teheran

Tiongkok berhasil masuk ke jantung pasar dunia, dan kini, saat pengaruh mereka mulai mencekik, muncul sosok Donald Trump

Dalam kacamata sejarah, Trump bukanlah sekadar sumber masalah melainkan ekspresi darurat dari sebuah imperium yang sedang terdesak dan nyaris bangkrut.

Paradoks Globalisme

Untuk memahami fenomena Trumpisme, kita harus menelaah doktrin Tao Guang Yang Hui "sembunyikan cahaya, pupuk kegelapan" yang diwariskan Deng Xiaoping. 

Selama dua dekade, Barat terbuai oleh narasi bahwa liberalisasi ekonomi secara otomatis akan melahirkan demokratisasi politik di Tiongkok

Bill Clinton pernah berkelakar bahwa upaya Beijing mengontrol internet seperti "memaku agar-agar ke dinding." Pasti jatuh.

Namun, sejarah membuktikan sebaliknya. Tiongkok memainkan peran sebagai pabrik dunia dengan ekspansi tinggi. 

Di bawah Xi Jinping, topeng itu kini lepas. Surplus perdagangan yang dulu dianggap keuntungan bersama, telah menjelma menjadi otot militer yang menantang hegemoni Amerika di Pasifik. 

Donald Trump hadir sebagai reaksi panik. Ia adalah manifestasi dari kesadaran bahwa kuda Troya sudah berada di dalam benteng. 

Strateginya bukan lagi diplomasi biasa, melainkan kebijakan bumi hangus terhadap tatanan lama yang dibungkus dalam satu kata: Panik.

Perang Nanometer dan Kedaulatan Energi

Geopolitik abad ke-21 tidak lagi diukur hanya dengan barel minyak, melainkan dalam satuan nanometer. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved