Breaking News
Jumat, 15 Mei 2026

Opini

Opini: Seni Memahami sebagai Etika Pendidik yang Terlupakan

Weber menekankan bahwa mengerti alasan seseorang berbuat sesuatu sama pentingnya dengan tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOEL UMBU RUNGA RITI
Yoel Umbu Runga Riti 

Oleh: Yoel Umbu Runga Riti
Dosen Institut Agama Kristen Negeri ( IAKN) Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Seorang mahasiswa duduk di sudut belakang ruang kelas, pandangannya kosong, tidak bersemangat dan tidak aktif dalam diskusi. 

Seorang dosen dalam kelas langsung memutuskan bahwa mahasiswa ini malas, tidak ada motivasi. 

Tetapi tidak ada yang tahu bahwa pagi itu ia baru saja mengantar bapaknya ke rumah sakit, atau bahwa ia harus bekerja semalaman untuk membayar uang kuliahnya. 

Di ruang kelas, kita seringkali terburu-buru menghakimi tanpa berusaha memahami. 

Di sistem pendidikan kita, baik dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, seringkali pendidik hanya sibuk memenuhi tuntutan administratif, peserta didik dituntut mengejar nilai, sementara interaksi antarmanusia yang seharusnya menjadi hal prinsipil dalam pendidikan justru menghilang. 

Baca juga: Opini: NTT Menuju PON XXII Tahun 2028

Yang tersisa hanyalah rutinitas mekanis di mana peserta didik hadir, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, mendapat nilai. 

Mereka seolah-olah hanya angka atau mesin, bukan manusia yang punya banyak cerita kehidupan. 

Penyebabnya sederhana, pendidikan kita telah kehilangan kemampuan untuk memahami. 

Kita terbiasa melihat peserta didik hanya dari luarnya saja seperti soal kehadiran, nilai tugas, hasil ujian dan hal administratif lainnya tanpa menyelami alasan di balik setiap tindakan mereka. 

Penilaian buru-buru ini tidak peduli pada satu hal penting bahwa di balik setiap tindakan, ada konteks, ada pergumulan, ada makna, ada motivasi yang perlu dipahami. 

Untuk mengembalikan dimensi kemanusiaan ini, kita memerlukan cara pandang yang mencari tahu mengapa peserta didik melakukan sesuatu, bukan sekadar apa yang mereka lakukan. Di sinilah konsep Verstehen dari Max Weber menjadi sangat krusial.

Verstehen : Dari Konsep Sosiologis Ke Etika Pedagogis

Verstehen, istilah yang diperkenalkan Max Weber, secara harafiah berarti pemahaman. 

Namun dalam konteks sosiologi interpretatif, Verstehen adalah usaha untuk mengerti alasan subjektif atau pribadi di balik sebuah perbuatan atau tindakan sosial, yaitu melihat dunia dari kacamata orang yang melakukannya, bukan sekadar melihat tingkah laku luarnya saja. 

Weber menekankan bahwa mengerti alasan seseorang berbuat sesuatu sama pentingnya dengan tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved