Opini
Opini: Seni Memahami sebagai Etika Pendidik yang Terlupakan
Weber menekankan bahwa mengerti alasan seseorang berbuat sesuatu sama pentingnya dengan tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan.
Dalam konteks pendidikan, Verstehen harus diterjemahkan menjadi dua hal. Pertama, sebagai etika pedagogis yaitu komitmen moral pendidik untuk tidak menilai peserta didik hanya dari apa yang terlihat di luar, melainkan berusaha mengerti konteks dan keadaan hidup mereka.
Kedua, sebagai kompetensi profesional yaitu kemampuan teknis untuk menggali informasi, mendengarkan, menghargai dan merancang pembelajaran yang personal, responsif dan akomodatif terhadap latar belakang peserta didik yang beragam.
Verstehen harus menjadi standar karena tanpa pemahaman, relasi antara pendidik dan peserta didik akan berubah menjadi relasi kuasa yang menekan.
Pendidik yang tidak berupaya memahami akan mudah terjebak dalam asumsi dangkal yang melukai dan melanggengkan ketidakadilan struktural.
Sebagai contoh, seorang peserta didik yang sering datang terlambat atau kelihatan sangat mengantuk saat jam pelajaran pertama dimulai.
Reaksi spontan sistem yang kaku adalah menghakiminya sebagai pribadi yang meremehkan waktu atau tidak punya niat belajar.
Sebaliknya, pendidik yang menggunakan kacamata Verstehen tidak akan terburu-buru menghakimi.
Ia akan mencoba menempatkan diri di posisi tersebut: mungkinkah ia harus menempuh perjalanan jauh dari rumahnya dengan akses transportasi yang sulit, atau sedang memikul tanggung jawab yang berat sebelum berangkat sekolah?
Di sinilah peran pendidik bergeser dari seorang hakim menjadi sahabat seperjalanan.
Membangun Ruang Pembelajaran yang Memberdayakan
Ketika seorang pendidik mempraktikkan Verstehen, terjadi pengakuan jati diri di mana peserta didik merasa dilihat sebagai manusia seutuhnya. Perasaan diakui inilah yang menjadi awal dari pemberdayaan.
Pemberdayaan di ruang pembelajaran tentu tidak selalu berarti memberi kebebasan tanpa batas.
Pemberdayaan dimulai saat peserta didik merasa bahwa latar belakang, pergumulan, dan keunikan mereka mendapatkan ruang untuk dipahami dan dihargai.
Pendidik yang memahami motif peserta didiknya akan mampu merancang pembelajaran yang lebih personal dan relevan.
Proses pengakuan ini menciptakan transformasi mendalam pada diri peserta didik.
Ketika mereka merasa dipahami, yang terjadi bukan sekadar peningkatan motivasi belajar.
Yoel Umbu Runga Riti
Institut Agama Kristen Negeri Kupang
Institut Agama Kristen Negeri
masalah pendidikan di ntt
Masalah Pendidikan
Opini Pos Kupang
Meaningful
| Opini: Dilema Kesejahteraan- Efisiensi atau Erosi Biokrasi? |
|
|---|
| Opini: Sunyi yang Tidak Didengar-Ketika Bunuh Diri Menjadi Bahasa Terakhir |
|
|---|
| Opini: Lonjakan HIV/AIDS di Nusa Tenggara Timur |
|
|---|
| Opini: Ilusi “Profesor Menjamur” dan Krisis Nalar Kebijakan Pendidikan Tinggi |
|
|---|
| Opini: Kerahiman Ilahi- Jalan Pulang Menuji Hati yang Diperbaharui |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoel-Umbu-Runga-Riti-02.jpg)