Opini
Opini: Seni Memahami sebagai Etika Pendidik yang Terlupakan
Weber menekankan bahwa mengerti alasan seseorang berbuat sesuatu sama pentingnya dengan tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan.
Lebih dari itu, peserta didik mengembangkan kepercayaan diri dan kesadaran bahwa keunikan mereka adalah kekuatan, bukan beban.
Mereka juga akan belajar bahwa kesulitan yang mereka hadapi bukan kegagalan pribadi, melainkan bagian dari perjalanan yang dapat dilewati dengan dukungan dari pendidik.
Dalam konteks luas, pendekatan Verstehen mengajarkan peserta didik untuk juga memahami orang lain, menciptakan lingkungan empati yang berkelanjutan. Dari sinilah lahir rasa percaya diri dan motivasi untuk terus belajar dan bertumbuh.
Menciptakan Ruang Kelas yang Dirindukan
Lebih jauh lagi, Verstehen juga mengubah cara pendidik merancang strategi pembelajaran.
Setiap peserta didik tentu mempunyai kebutuhan dan kondisi yang sama, pendidik yang memahami akan menyesuaikan dan menerapkan pendekatan atau strategi pembelajaran yang akomodatif.
Bagi peserta didik yang berasal dari keluarga dengan akses terbatas terhadap teknologi, pendidik dapat menyediakan alternatif materi cetak.
Bagi mereka yang bekerja sambil kuliah, deadline dapat disesuaikan tanpa mengurangi standar kualitas.
Fleksibilitas semacam ini bukan bentuk dari menurunkan standar, melainkan strategi untuk memastikan bahwa setiap peserta didik mendapat kesempatan yang adil untuk belajar sesuai dengan konteks kehidupannya.
Pertanyaan besar bagi setiap pendidik adalah: Apakah kehadiran kita di ruang kelas dirindukan?
Peserta didik tentu merindukan momen belajar bukan karena kemewahan fasilitas, melainkan karena pengakuan atas keberadaan mereka sebagai manusia utuh dalam ruang yang aman secara emosional.
Ruang yang dirindukan adalah tempat di mana kesalahan dianggap sebagai bagian dari perjalanan, bukan kegagalan.
Jika pendidik secara konsisten menggunakan pendekatan Verstehen, lingkungan akademik akan bertransformasi menjadi sebuah ekosistem pembelajaran yang hidup.
Hubungan antara pendidik dan peserta didik bukan lagi sekadar transaksi pengetahuan, melainkan sebuah perjumpaan dua manusia yang saling menghargai makna kehidupan masing-masing. Ruang seperti inilah yang akan selalu dikenang dan dirindukan.
Langkah ini tidak hanya mengubah ruang kelas menjadi lebih humanis, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki kepekaan sosial tinggi.
Peserta didik yang dibesarkan dalam lingkungan yang memahami mereka akan tumbuh menjadi individu yang juga mampu memahami orang lain.
Yoel Umbu Runga Riti
Institut Agama Kristen Negeri Kupang
Institut Agama Kristen Negeri
masalah pendidikan di ntt
Masalah Pendidikan
Opini Pos Kupang
Meaningful
| Opini: Dilema Kesejahteraan- Efisiensi atau Erosi Biokrasi? |
|
|---|
| Opini: Sunyi yang Tidak Didengar-Ketika Bunuh Diri Menjadi Bahasa Terakhir |
|
|---|
| Opini: Lonjakan HIV/AIDS di Nusa Tenggara Timur |
|
|---|
| Opini: Ilusi “Profesor Menjamur” dan Krisis Nalar Kebijakan Pendidikan Tinggi |
|
|---|
| Opini: Kerahiman Ilahi- Jalan Pulang Menuji Hati yang Diperbaharui |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoel-Umbu-Runga-Riti-02.jpg)