Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Opini: Pentingnya Etika dalam Kehidupan Sosial

Keduanya saling mengandaikan dan melengkapi. Bahwa hidup tanpa prinsip etika laiknya kita menabur garam di lautan. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Yanuarius Y.Tolan Igor 

Kendati demikian, kadang setiap pertimbangan moral berdampak kontraproduktif baik terhadap orang lain maupun diri sendiri. 

Karenanya, etika atau filsafat moral hadir untuk memastikan hakikat tentang kebaikan dan kejahatan.

Kedua, etika dibutuhkan untuk menyelaraskan keyakinan kita untuk bijak menempatkan aspek dasar tentang nilai yang baik dan yang buruk. 

Terkadang dalam kehidupan sosial, dampak dari setiap ilmu atau teori membawa kita pada tindakan yang salah kaprah. 

Etika hadir menemukan hakikat kebaikan bagi kita dalam memaknai setiap peristiwa hidup.

Ketiga, etika membantu kita menemukan orientasi atau tujuan hidup. Etika membantu kita secara konsisten dan selektif mencari dan menemukan orientasi hidup yang sesungguhnya di balik beragam pandangan hidup yang kadang dianggap benar dan berdaya saing tetapi sejatinya merusak dan mereduksi tatanan nilai budaya dan tradisi.

Persoalan Sosial

Persoalan sosial cenderung muncul dari rentannya tatanan budaya yang dari waktu ke waktu kehilangan eksistensinya. Beragam faktor jadi alasan kuat terjadinya persoalan sosial. 

Misalnya, penerapan prinsip etika dan larangan adat-istiadat yang sifatnya tidak lagi mengikat dan berdampak luas.

Sepekan terakhir, publik tanah air disuguhi sebuah  berita yang seketika memantik atensi semua lapisan masyarakat. 

Berita yang dirilis berbagai media baik cetak maupun daring bukan tentang prestasi anak bangsa yang mengibarkan lencana merah putih, melainkan peristiwa nahas yang memengaruhi psikologi khayalak dimana seorang anak berumur 10 tahun rela mengakhiri masa hidupnya (bunuh diri) karena tak ikhlas lagi melihat keterbatasan hidup yang dialami ibu dan adik-adiknya. 

Tragedi ini terjadi di Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (Kamis, 29/1/2026).

Peristiwa ini jadi representasi dinamika persoalan sosial. Hampir semua lapisan masyarakat dan hirarki pemerintahan (pusat-daerah) saling mengoreksi dan dominan memosisikan tentang siapa yang benar dan salah. 

Banyak pihak yang larut dalam kesedihan panjang karena berempati dan pernah hadir dan mengalami dari dekat situasi yang dialami YBR (inisial) dan keluarganya. 

Tetapi banyak pihak lain lebih fokus mengklaim tentang peran dan keterlibatan nyata dalam berbagai layanan pemerintahan. 

Berbasiskan kenyatan dan peristiwa yang terjadi, kita tentu kembali memroyeksikan idealisme di tengah situasi batas yang menyita perhatian publik. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved