Opini
Opini: Fiat Maria dan Krisis Iman Modern
Maria tidak hanya dikenang sebagai Bunda, tetapi dihidupi sebagai cara berada sebagai murid Kristus di dunia hari ini.
Oleh: Matheus Tnopo
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang. Saat ini berdomisili di Biara Skolastikat Hati Maria Matani-Kupang, NTT.
POS-KUPANG.COM - Bulan Mei dalam tradisi Gereja Katolik dikenal sebagai bulan Maria, suatu devosi yang begitu akrab bagi umat.
Akan tetapi sering kali dijalani tanpa refleksi yang mendalam, semoga penulis salah dalam hal ini.
Maka penting untuk tidak hanya merayakannya secara ritual, tetapi juga memahami akar historisnya, dinamika perkembangannya, dan relevansinya bagi kehidupan iman hari ini.
Asal-usul Historis: dari Budaya ke Spiritualitas
Penetapan bulan Mei sebagai Bulan Maria tidak muncul langsung dari Kitab Suci, melainkan berkembang dalam tradisi Gereja Katolik Roma.
Pada masa abad pertengahan di Eropa, bulan Mei dikenal sebagai bulan musim semi; bulan kehidupan, kesuburan, dan keindahan alam.
Baca juga: PM Timor Leste Xanana Gusmão Kunjungi Patung Bunda Maria Segala Bangsa di Belu, Doakan Perdamaian
Dalam konteks ini, Maria dipandang sebagai “bunga rohani” yang paling indah, simbol kehidupan baru dalam Kristus.
Devosi (praktik kesalehan umat) ini, mulai mendapat bentuk yang lebih sistematis sekitar abad ke-17 hingga ke 18, terutama melalui gerakan Serikat Yesus yang mempopulerkan praktik penghormatan khusus kepada Maria sepanjang bulan Mei.
Puncaknya pada abad ke-19, devosi ini semakin diteguhkan dalam kehidupan Gereja Universal, khususnya pada masa kepemimpinan Paus Pius IX dan Paus Leo XIII, yang sangat mendorong doa Rosario dan penghormatan kepada Maria.
Namun, penting dicatat: ini adalah tradisi gerejawi (traditio), bukan dogma iman.
Artinya ia berkembang sebagai ekspresi iman umat, bukan kewajiban teologis yang mutlak.
Kritik: Antara Devosi dan Devosionalisme
Di sinilah refleksi kritis perlu dimulai. Devosi kepada Maria pada bulan Mei sering kali jatuh pada bentuk devosionalisme, yaitu praktik lahiriah tanpa kedalaman makna.
Ada beberapa kecenderungan yang patut dikritisi:
- Reduksi Maria menjadi simbol sentimental
Maria kerap dipahami hanya sebagai figur lembut, penuh kasih, tetapi tanpa keberanian profetik.
Padahal dalam Kitab Suci, khususnya dalam Magnificat (Lukas 1:46-55), Maria tampil sebagai sosok yang revolusioner, yang memihak kaum kecil dan mengguncang struktur ketidakadilan.
- Devosi tanpa transformasi hidup
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Matheus-Tnopo.jpg)