Opini
Opini: Pentingnya Etika dalam Kehidupan Sosial
Keduanya saling mengandaikan dan melengkapi. Bahwa hidup tanpa prinsip etika laiknya kita menabur garam di lautan.
Idealisme kita bukan tentang apa yang pemerintah dan semua lembaga keagamaan, organisasi, dan pemerhati sosial lakukan pasca tragedi ini, melainkan seberapa jauh dan efektif masing-masing kita berperan menerapkan etika dalam berbagai urusan sosial.
Klaim tentang peran subjektif maupun kolektif, bukan pilihan untuk mengembalikan sesuatu yang telah hilang dan tak akan lagi kembali.
Hal sederhana yang seharusnya ditindaklanjuti adalah mencari dan menemukan alasan mendasar yang melatarbelakangi peristiwa itu terjadi dan mengevaluasi segala bentuk peran dan kebijakan semua lembaga negara, agama, pemerhati sosial dan lain sebagainya.
Perspektif banyak kalangan menilai peristiwa ini sebagai bentuk kegagalan negara dalam menjamin keberlangsungan hidup warganya.
Pada satu sisi, pandangan ini bisa merepresentasikan kegagalan negara dalam sistem pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan.
Namun, pada sisi yang lain, negara juga berperan pada tupoksinya yang terkendala karena belum ditindaklanjuti secara adil dan merata oleh pemangku kepentingan daerah hingga pelosok desa.
Persoalan sosial seperti ini mengingatkan kita bahwa situasi batas itu muncul akibat tergerusnya tatanan nilai yang jadi sumber kekuatan dan jaminan keberlangsungan hidup.
Karenanya terhadap situasi ini, semua pemangku kepentingan yang merasa dimiliki oleh setiap lapisan masyarakat berbenah diri dan berkomitmen pada sebuah orientasi sosial yang berdampak nyata bagi setiap lapisan masyarakat yang mebutuhkannya.
Setiap lembaga keagamaan tentunya juga berbenah diri. Menilai sejauh mana ajaran moral berdampak pada khalayak (umat/konteks keagamaan) di tengah kompleksitas pengetahuan yang cenderung menihilkan prinsip etika dan ajaran moral keagamaan.
Masing-masing pemangku kepentingan yang dibutuhkan perannya atas persoalan sosial seperti ini mesti punya terobosan yang berdaya mengubah dan meringankan beban hidup bukan menciptakan situasi yang membuat banyak kalangan merasa miris menentukan pilihan dan membangun optimisme.
Negara, lembaga keagamaan, organisasi sosial, dan pemerhati sosial hendaknya menyelaraskan peran dan kebijakan pada prinsip etis yang saling melengkapi.
Filsuf Emanuel Kant (1724-1804) menilai etika bukan sebagai moralitas, melainkan pertimbangan kebijaksanaan semata.
Baginya, moralitas bukan tindakan supaya memeroleh kebahagian, melainkan suatu kewajiban.
Bila saya harus menolong orang lain, maka tindakan tersebut dilakukan bukan dengan tujuan mencari kesenangan, melainkan karena saya wajib secara moral.
Merujuk pada pandangan Kant, masing-masing kita berbenah sembari menilai persoalan sosial dan tragedi ini sebagai kesempatan reflektif bahwa semua bentuk kemiskinan dan permasalahan sosial lainnya adalah kewajiban moral yang pada waktunya kita penuhi.
Yanuarius Y. Tolan Igor
etika dan moral
Opini Pos Kupang
Nusa Tenggara Timur
beretika
Etika
Meaningful
| Opini: Dunia yang Kehilangan Tatanan |
|
|---|
| Opini: El Nino Godzilla, Potensi Bias Risiko dan Arah Kebijakan |
|
|---|
| Opini: SiLPA NTT 2025- Ketika Sisa Anggaran Menjadi Cermin Kegagalan Serapan |
|
|---|
| Opini: Martabat Perempuan di NTT dalam Terang Dokumen Mulieris Dignitatem |
|
|---|
| Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yanuarius-YTolan-Igor-03.jpg)