Jumat, 1 Mei 2026

Opini

Opini: Saat Musim Kemarau Mengetuk Pintu NTT

Memasuki bulan Mei, wilayah NTT mulai didominasi oleh pergerakan Angin Monsun Timur (Australian Monsoon). 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HAMDAN NURDIN
Hamdan Nurdin 

Oleh: Hamdan Nurdin
Climate Forecaster Senior Stasiun Klimatologi NTT.

POS-KUPANG.COM - Hari ini, di bawah langit Kota Kupang yang cerah pada 30 April 2026, hembusan angin sudah mulai terasa mengeringkan kulit. 

Menjelang masuknya bulan Mei, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) - Stasiun Klimatologi Kelas II Nusa Tenggara Timur kembali merilis instrumen diagnostik utamanya: Peta Prediksi Curah Hujan Probabilistik untuk Dasarian I Mei 2026 (1–10 Mei 2026).
 

Tabel
Tabel (POS-KUPANG.COM)

Secara saintifik, peta ini adalah representasi spasial dari peluang presipitasi (turunnya air dari atmosfer). 

Namun, jika kita terjemahkan menggunakan kacamata kearifan lokal NTT, peta ini adalah "surat dari alam" yang memberitahu kita bahwa musim kemarau telah resmi mengetuk pintu NTT. Mari kita bedah data ilmiah ini dengan bahasa yang lebih sederhana.

Dalam analisis klimatologi, terlihat adanya tingkat keyakinan (confidence level) dari suatu kejadian. 

Baca juga: Opini: Menemukan Kembali Lumbung Pakan di Nusa Tenggara Timur

Pada peta peluang curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian di atas, hampir sebagian besar wilayah NTT memerah pekat, yang secara statistik ini menunjukkan nilai kemungkinan terjadi berkisar antara 91 hingga 100 persen.

Angka ini ibarat jaminan kepastian. Kepastian bahwa hujan tidak akan lebih dari 50 millimeter per sepuluh hari, sama pastinya dengan fakta bahwa matahari terbit dari ufuk timur Gunung Mutis. 

Jika ada mendung yang mampir, itu ibarat tamu yang sekadar lewat minum kopi, sonde (tidak) menginap. 

Hujan yang turun mungkin hanya rintik-rintik sekilas yang tidak cukup untuk mengisi kembali haik (wadah air dari daun lontar) apalagi sumur-sumur warga.

Di sisi lain, peluang curah hujan ekstrem (lebih dari 100 mm/dasarian), memiliki peluang kecil terjadi kurang dari 10 persen  (warna putih). 

Awan cumulonimbus penyebab hujan disertai petir dan angin kencang yang terkadang akan memberikan dampak pada tingginya potensi banjir sudah dilarang melintas di atas kepulauan NTT.

Mengapa langit kita tiba-tiba pelit air? Jawabannya ada pada pergerakan sirkulasi atmosfer regional. 

Memasuki bulan Mei, wilayah NTT mulai didominasi oleh pergerakan Angin Monsun Timur (Australian Monsoon). 

Monsun ini membawa massa udara kering dari Australia yang melewati sebagian besar daratan yang didominasi oleh wilayah gurun atau dikenal dengan istilah subsiden, dimana udara yang bergerak turun yang bersifat sangat stabil.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved