Opini
Opini: Catatan Psikologis atas Kasus Atambua
Ia adalah tanggung jawab kolektif. Karena setiap anak yang menjadi korban kejahatan adalah cermin dari masyarakat yang lalai.
Akibatnya, perhatian publik bergeser. Alih-alih membicarakan kekerasan yang dilakukan pelaku, kita justru sibuk menguliti perilaku korban: cara berpakaian, lingkar pertemanan, hingga gaya hidupnya. Anak yang sudah terluka dipaksa kembali ke ruang penghakiman sosial.
Cara bercerita semacam ini bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya. Cara ini menciptakan pesan tersirat bahwa keselamatan anak adalah tanggung jawab anak itu sendiri.
Bahwa jika mereka “lebih baik”, “lebih patuh”, atau “lebih menjaga diri”, maka kekerasan tidak akan terjadi.
Padahal, kekerasan seksual selalu berakar pada penyalahgunaan kuasa oleh pelaku, bukan pada moral korban.
Lebih jauh lagi, victim blaming memperkuat budaya diam. Banyak korban memilih tidak melapor karena takut disalahkan, dipermalukan, atau dianggap mencoreng nama keluarga.
Dalam konteks masyarakat kecil seperti di banyak wilayah NTT, stigma sosial bisa menjadi hukuman yang lebih berat daripada trauma itu sendiri.
Anak belajar bahwa berbicara justru akan membuat mereka semakin sendirian.
Narasi publik juga sering gagal membedakan antara perilaku berisiko dan persetujuan.
Seorang remaja boleh saja berada di ruang sosial yang tidak ideal, tetapi itu tidak pernah berarti ia menyetujui kekerasan.
Ketika masyarakat mencampuradukkan keduanya, kita sedang mereduksi kompleksitas psikologis remaja dan menormalisasi relasi kuasa yang timpang.
Lebih ironis lagi, pelabelan “nakal” atau “sudah biasa begitu” kerap menutup fakta bahwa banyak remaja memasuki pergaulan berisiko karena kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi: kurangnya perhatian di rumah, absennya figur aman, atau keinginan kuat untuk merasa diterima.
Dalam perspektif ini, perilaku yang dianggap menyimpang justru merupakan ekspresi dari luka-luka yang belum tertangani.
Masyarakat perlu menyadari bahwa cara kita bercerita tentang kekerasan seksual ikut menentukan apakah korban akan dipulihkan atau semakin dihancurkan.
Bahasa membentuk realitas. Ketika kita menyalahkan korban, kita sedang membangun ekosistem yang ramah bagi pelaku.
Maka sudah saatnya narasi publik bergeser: dari menghakimi korban menjadi membongkar struktur yang memungkinkan kekerasan terjadi.
Dari gosip moral menjadi refleksi sosial. Dari mencari kesalahan anak menjadi mempertanyakan kegagalan orang dewasa.
Anak sebagai Korban Kekerasan Sistemik
Kasus Atambua memperlihatkan wajah kekerasan sistemik, kekerasan yang tidak hanya dilakukan oleh individu, tetapi lahir dari kegagalan kolektif dalam membangun lingkungan yang aman bagi anak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dominifridus-Bone.jpg)