Opini
Opini - Eklesiologi Kontekstual dalam Media dan Realitas: Tantangan atau Peluang
Eklesiologi kontekstual yang diinginkan adalah partisipatif aktif dalam kehidupan sosial dunia.
Opini - Eklesiologi Kontekstual dalam Media dan Realitas: Tantangan atau Peluang
Oleh: Frederikus Kono
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Peziarahan gereja di era ini, berada dalam lingkaran dilematis. Gereja di hadapkan dalam situasi pemilihan yang urgen, antara keselamatan surga dan kenikmatan dunia.
Panggilan gereja untuk membangun Kerajaan surga di dunia adalah momen untuk merangkak menuju kepenuhan hidup yang bermakna.
Cinta kasih, pelayanan, bela rasa dan solidaritas merupakan nilai-nilai kerajaan Allah yang harus diakarkan dan dibumikan dalam kehidupan setiap hari.
Namun usaha tersebut dihalangi berbagai tantangan dan hambatan yang pelik. Ketidakadilan, eksploitasi, intoleransi, korupsi, kesenjangan sosial serta masih banyak problem yang tak kunjung usai.
Berhadapan dengan hal-hal demikian, pertanyaannya untuk gereja kontekstual, apa yang perlu diperjuangkan dan dihadirkan?
Berbagai macam aspek dan kebutuhan disodorkan kepada manusia dan menjadikan manusia bukan lagi sebagai subjek kehidupan, melainkan arena objektif dan sasaran keuntungan segelintir individu.
Pada titik inilah, gereja perlu bertanya kepada dirinya tentang keberadaannya di dunia. Apakah masih relevan ataukah sudah ketinggalan?
Amanat dalam konstitusi pastoral tentang gereja di dunia dewasa ini (Gaudium et Spes) menegasan secara lantang dalam artikel 1.
“Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.”
Artinya gereja pun turut merasakan dan terlibat dalam situasi sosial orang-orang zaman ini. Dengan demikian pertanyaan tentang eksistensi gereja harus dibuktikan di dalam tindakan partisipatif dalam dunia.
Perjalanan gereja tidak tanpa masalah. Proses digitalisasi dan perkembangan teknologi serta masalah-masalah sosial lainnya mengundang kehadiran gereja untuk berbicara tentang kebenaran.
Ketika media–media digital digunakan secara bertanggungjawab gereja hadir sebagai pelindung, namun sebaliknya ketika media disalahgunakan untuk kepentingan yang sesat, gereja hadir memberi peringatan dan arah.
Paus Leo XIV pun dalam situasi keprihatinannya terhadap dunia, mengeluarkan ensiklik pertamanya “Magnifica Humanitas” sebagai suatu seruan sosial gereja untuk kehidupan digital sekarang, di saat AI (artificial intelligence) digunakan untuk mendehumanisasikan manusia.
eklesiologi kontekstual
Frederikus Kono
Opini - Eklesiologi Kontekstual dalam Media
Gereja
POS-KUPANG.COM
| Opini: Mengurai Benang Kusut Dilema Penerimaan Mahasiswa Baru |
|
|---|
| Opini - Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Human Trafficking di NTT |
|
|---|
| Opini - Relevansi Teologi Minjung bagi Indonesia Masa Kini |
|
|---|
| Opini: Dari Miangas hingga Rote, Kita Bersorak untuk Dunia Bukan untuk Indonesia |
|
|---|
| Opini: Empat Wajah Pembangunan NTT dalam Satu Dekade |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Frederikus-Kono-1okay.jpg)