Opini
Opini: Catatan Psikologis atas Kasus Atambua
Ia adalah tanggung jawab kolektif. Karena setiap anak yang menjadi korban kejahatan adalah cermin dari masyarakat yang lalai.
Mereka sedang belajar menjadi dewasa, bukan sudah menjadi dewasa.
Inilah alasan mendasar mengapa anak tidak boleh diperlakukan sebagai miniatur orang dewasa.
Menyematkan standar tanggung jawab moral orang dewasa kepada remaja adalah bentuk ketidakadilan psikologis.
Ketika seorang anak terseret dalam pergaulan berisiko, itu sering kali merupakan sinyal bahwa ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi atau lemahnya sistem pendampingan di sekitarnya.
Maka pertanyaan kuncinya bukanlah “mengapa dia melakukan itu?”, melainkan: siapa yang seharusnya mendampingi tumbuh-kembang remaja? Di mana keluarga? Di mana masyarakat? Di mana sekolah?
Ketika Otak Remaja Bertemu Alkohol
Dari perspektif psikologi kognitif dan neuropsikologi, prefrontal cortex, bagian otak yang berfungsi mengatur pertimbangan risiko, kontrol impuls, dan perencanaan masa depan, belum berkembang sempurna pada usia remaja.
Proses pematangan area ini baru mencapai stabilitas penuh pada awal hingga pertengahan usia 20-an.
Akibatnya, remaja secara alami lebih impulsif, lebih mudah terbawa suasana, dan lebih rentan terhadap tekanan sosial.
Mereka juga cenderung meremehkan bahaya serta melebihkan sensasi sesaat.
Situasi ini menjadi jauh lebih berbahaya ketika alkohol terlibat.
Minuman keras bekerja langsung pada sistem saraf pusat, menurunkan kesadaran, mengganggu penilaian, melemahkan daya tolak, serta merusak kemampuan membuat keputusan sehat.
Dalam kondisi mabuk atau setengah sadar, seseorang, terlebih remaja, kehilangan kapasitas untuk memberikan persetujuan yang sadar dan bebas.
Dalam konteks kasus ini, relasi seksual yang melibatkan anak di bawah umur, apalagi dalam kondisi terpengaruh alkohol, secara psikologis adalah relasi timpang.
Tidak ada kesetaraan kuasa di sana. Yang ada adalah ketidakberdayaan. Karena itu, menyebut peristiwa semacam ini sebagai akibat “pilihan korban” adalah penyederhanaan yang keliru.
Secara kognitif, korban berada dalam kondisi kerentanan ekstrem. Apa pun latar pergaulan sebelumnya, relasi seksual dalam situasi tersebut tetap merupakan kekerasan seksual. Titik.
Victim Blaming dan Ketidakadilan Cara Kita Bercerita
Narasi tentang “pergaulan bebas” adalah contoh klasik victim blaming, sebuah mekanisme sosial yang secara tidak sadar memindahkan beban tanggung jawab dari pelaku kepada korban.
Dalam psikologi sosial, kecenderungan ini dikenal sebagai just world bias: manusia ingin percaya bahwa dunia berjalan adil, sehingga ketika tragedi terjadi, kita mencari-cari kesalahan korban agar realitas terasa lebih dapat diterima.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dominifridus-Bone.jpg)