Selasa, 2 Juni 2026

Opini

Opini: Pariwisata Premium dan Keselamatan Transportasi Laut

Pola berulang ini mengindikasikan persoalan struktural dalam tata kelola keselamatan bahari, bukan semata kesalahan individual.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PETRUS KANISIUS S TAGE
Petrus Kanisius Siga Tage 

Dalam jangka panjang, pengabaian terhadap dimensi keselamatan akan berdampak negatif, baik terhadap reputasi destinasi maupun keberlanjutan sektor pariwisata itu sendiri.

Masyarakat lokal di kawasan sekitar Taman Nasional Komodo masih menghadapi berbagai keterbatasan layanan dasar. 

Persoalan akses air bersih, misalnya, menjadi realitas sehari-hari di sejumlah pulau. 

Distribusi sumber daya yang lebih berpihak pada kebutuhan industri pariwisata menimbulkan kesan adanya ketimpangan prioritas. 

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan kepercayaan warga terhadap manfaat langsung dari pembangunan yang berlangsung di sekitar mereka.

Pembangunan pariwisata sejatinya tidak hanya soal menarik wisatawan, tetapi juga memastikan keberlanjutan sosial dan lingkungan. 

Ketika masyarakat lokal merasa terpinggirkan, maka keberlanjutan tersebut menjadi rapuh. 

Tragedi kecelakaan laut, dalam konteks ini, dapat dipahami sebagai bagian dari persoalan yang lebih luas: pembangunan yang belum sepenuhnya menempatkan keselamatan dan kesejahteraan sebagai inti kebijakan.

Infrastruktur Maritim yang Belum Siap

Salah satu tantangan besar di kawasan ini adalah keterbatasan infrastruktur maritim. 

Hingga kini, Labuan Bajo belum memiliki fasilitas galangan kapal yang memadai untuk perawatan rutin dan inspeksi teknis. 

Akibatnya, operator kapal harus melakukan docking ke daerah lain, seperti Bali, dengan biaya tinggi. 

Kondisi ini menciptakan dilema bagi pelaku usaha, terutama skala kecil, antara memenuhi standar keselamatan atau menekan biaya operasional.

Upaya digitalisasi perizinan berlayar melalui sistem daring memang patut diapresiasi karena mempercepat proses administratif. 

Namun, digitalisasi tersebut belum diimbangi dengan pengawasan teknis yang memadai. 

Sistem belum terintegrasi dengan pemantauan kondisi mesin atau muatan kapal secara real-time. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved