Selasa, 2 Juni 2026

Opini

Opini: Rumah Biru, Dapur Sunyi dan Miliaran yang Berputar

Sebab rumah tidak pernah benar benar diuji dari warna cat di dindingnya. Rumah diuji dari dapurnya.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HENDRIK WADU NERU
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Ketika Pembangunan Semakin Kaya Lembaga, Tetapi Semakin Sulit Menemukan Manusia

Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta Gereja Masehi Injili di Timor ( GMIT) di Klasis Sabu Timur, Nusa Tenggara Timur
e-Mail: johnmhwaduneru@gmail.com

POS-KUPANG.COM - Setiap kali musim hujan terlambat datang, Om Kobus kembali berjalan ke kebunnya dengan kecemasan yang sama. 

Ia memeriksa tanah yang mulai mengeras, menghitung tanaman yang tidak tumbuh sebagaimana mestinya, lalu pulang dengan pertanyaan yang tidak pernah mudah dijawab: apakah hasil panen tahun ini cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu biaya sekolah cucunya? 

Di tempat lain, sebelum matahari terbit, Mama Maria sudah lebih dahulu berjalan menuju pasar dengan bakul sayur di tangannya. 

Ia tidak berbicara tentang dividen, tata kelola atau pertumbuhan ekonomi. Yang ia pikirkan adalah apakah dagangannya laku hari itu dan apakah uang yang dibawa pulang cukup untuk membeli beras, minyak goreng dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Baca juga: Opini: Jejak Perjuangan Putera NTT Yoseph Ola Bebe Melawan Belanda

Kisah mereka mungkin tidak pernah masuk ke dalam laporan tahunan, tetapi justru dari kehidupan seperti itulah kita seharusnya membaca arah pembangunan. 

Sebab rumah tidak pernah benar benar diuji dari warna cat di dindingnya. Rumah diuji dari dapurnya. 

Dari apakah tungku masih menyala, apakah anak anak masih bisa makan dengan layak dan apakah keluarga masih memiliki harapan untuk esok hari. 

Karena itu, ketika berbicara tentang pembangunan di Nusa Tenggara Timur, saya semakin yakin bahwa persoalan utama kita bukan pertama tama kekurangan program atau lembaga. 

Persoalannya terletak pada cara kita memahami pembangunan itu sendiri. Kita terlalu mudah mengukur keberhasilan dari apa yang tampak di depan rumah, namun tidak cukup sabar untuk masuk ke dapur dan mendengar apa yang sedang dialami penghuninya.

Di tengah berbagai perbincangan tentang pertumbuhan ekonomi, investasi, koperasi dan penguatan kelembagaan, pertanyaan itulah yang terus mengganggu saya: apakah pembangunan sungguh sedang mendekati manusia atau justru semakin menjauh dari kehidupan yang hendak dilayaninya?

Miliaran di Meja Rapat dan Empat Puluh Empat Ribu Rupiah di Dapur

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika ditempatkan berdampingan dengan realitas ekonomi masyarakat NTT

Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat bahwa sekitar 75,28 persen pekerja di NTT berada dalam sektor informal dengan rata rata pendapatan bersih sekitar Rp1,32 juta per bulan (Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2026a). 

Jika dibagi tiga puluh hari, nilainya hanya sekitar Rp 44.000 per hari. Empat puluh empat ribu rupiah itu bahkan lebih kecil dari biaya satu kali makan siang di banyak kota besar Indonesia. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved