Opini
Opini: Menjaga Api Pancasila dari Bumi Ende
Di kota pengasingan itu, antara tahun 1934 hingga 1938, Bung Karno menjalani hari-harinya bersama rakyat biasa.
Refleksi Hari Lahir Pancasila bagi Generasi Z dan Alpha di Nusa Tenggara Timur
Oleh: Winston Neil Rondo
Ketua DPD GAMKI Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita sebagai bangsa kembali tertuju pada sebuah kota kecil di pesisir selatan Pulau Flores: Ende.
Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, momentum Hari Lahir Pancasila bukan sekadar peringatan tahunan dalam kalender kenegaraan.
Lebih dari itu, ini adalah momen untuk mengenang sebuah warisan besar yang lahir dari tanah kita sendiri.
Di kota pengasingan itu, antara tahun 1934 hingga 1938, Bung Karno menjalani hari-harinya bersama rakyat biasa.
Baca juga: Opini: Pancasila di Dinding, Krisis Karakter di Ruang Kelas
Di bawah teduhnya pohon sukun yang kini menjadi bagian dari sejarah bangsa, ia merenungkan nasib Indonesia yang masih terjajah dan menggali nilai-nilai dasar yang kemudian menjadi fondasi negara: Pancasila.
Karena itu, Ende bukan sekadar lokasi bersejarah. Ende adalah tempat lahirnya sebuah gagasan besar yang hingga hari ini menjadi rumah bersama bagi ratusan juta rakyat Indonesia yang berbeda agama, suku, budaya, dan bahasa.
Namun, sembilan puluh tahun setelah masa perenungan Bung Karno di Ende, tantangan yang dihadapi bangsa ini telah berubah. Generasi muda Indonesia, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha, tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda.
Mereka hidup di tengah arus informasi yang bergerak cepat, media sosial yang nyaris tanpa batas, serta perkembangan teknologi yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi.
Dalam situasi seperti itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi apakah Pancasila masih relevan, melainkan bagaimana memastikan nilai-nilai Pancasila tetap hidup dan bermakna bagi generasi muda masa kini.
Persoalan terbesar generasi muda NTT hari ini sesungguhnya bukan hanya banjir informasi digital.
Mereka juga sedang menghadapi berbagai kenyataan yang tidak mudah: lapangan kerja yang terbatas, tingginya migrasi keluar daerah, ancaman perdagangan orang, kualitas pendidikan yang belum merata, hingga berbagai persoalan sosial yang terus menuntut perhatian bersama.
Dalam situasi seperti itu, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah Pancasila penting, tetapi bagaimana Pancasila hadir sebagai jawaban atas persoalan sehari-hari yang mereka hadapi.
Kabar baiknya, sebagian besar anak muda Indonesia masih memandang Pancasila sebagai fondasi terbaik bagi kehidupan berbangsa.
Winston Neil Rondo
Ketua DPD GAMKI NTT
mengamalkan Pancasila
Pancasila
Hari Lahir Pancasila
Meaningful
Ende
Bung Karno
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Pancasila di Dinding, Krisis Karakter di Ruang Kelas |
|
|---|
| Opini: Meneropong Kualitas Tata Kelola MBG dari Perspektif Produsen dan Konsumen |
|
|---|
| Opini: Rumah Biru, Dapur Sunyi dan Miliaran yang Berputar |
|
|---|
| Opini: Manfaat Digitalisasi Bagi Petani dalam Meningkatkan Usahatani |
|
|---|
| Opini: Jejak Perjuangan Putera NTT Yoseph Ola Bebe Melawan Belanda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Winston-Rondo-GAMKI.jpg)