Opini
Opini - Ketika Teknologi Menguasai Kosmos: Membaca Kritik Martin Heidegger
Kosmos tidak lagi dipahami sebagai ruang kehidupan bersama, melainkan sekadar “bahan” yang dapat diatur dan dikendalikan.
Opini - Ketika Teknologi Menguasai Kosmos: Membaca Kritik Martin Heidegger
Oleh: Pascalianus Arki Banunaek
Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
POS-KUPANG.COM - Di era modern, manusia hidup dalam dunia yang bergerak semakin cepat. Teknologi berkembang tanpa henti dan menjangkau hampir seluruh dimensi kehidupan.
Dari telepon pintar hingga kecerdasan buatan, dari media sosial hingga industri digital, semuanya menawarkan kemudahan dan efisiensi.
Dunia seakan berada dalam genggaman manusia. Namun di balik kemajuan itu, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah manusia masih memiliki relasi yang sehat dengan alam dan kosmos?
Alam semakin sering dipandang hanya sebagai objek produksi. Hutan ditebang demi industri, laut dieksploitasi demi keuntungan ekonomi, dan tanah kehilangan makna selain sebagai sumber daya.
Teknologi modern perlahan membentuk cara pandang manusia terhadap dunia. Segala sesuatu dinilai berdasarkan manfaat, kecepatan, dan keuntungan.
Kosmos tidak lagi dipahami sebagai ruang kehidupan bersama, melainkan sekadar “bahan” yang dapat diatur dan dikendalikan. Kondisi ini pernah dikritik oleh filsuf Jerman, Martin Heidegger.
Dalam pemikirannya tentang teknologi, Heidegger menegaskan bahwa bahaya terbesar teknologi bukan terletak pada mesin itu sendiri, melainkan pada cara berpikir yang dibentuk olehnya.
Teknologi modern membuat manusia melihat dunia secara instrumental: segala sesuatu hanya dianggap bernilai sejauh dapat digunakan. Alam kehilangan kesakralannya dan manusia perlahan terasing dari keberadaannya sendiri.
Menurut Heidegger, teknologi bukan sekadar alat. Teknologi adalah cara manusia memandang realitas. Ketika cara pandang teknologis mendominasi kehidupan, manusia cenderung lupa bahwa alam memiliki nilai yang melampaui fungsi ekonomis.
Sungai tidak lagi dilihat sebagai bagian dari kehidupan kosmis, tetapi sebagai sumber energi. Hutan tidak lagi dipahami sebagai ruang ekologis yang hidup, melainkan stok bahan baku industri. Bahkan manusia sendiri mulai dipandang seperti mesin produksi yang harus terus bekerja, cepat, efisien, dan produktif.
Kritik Heidegger terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern hari ini. Media sosial, misalnya, sering kali membuat manusia sibuk mengejar citra dan validasi digital.
Teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia justru sering melahirkan keterasingan. Orang semakin mudah terhubung secara virtual, tetapi semakin sulit hadir secara nyata. Kehidupan menjadi penuh kebisingan informasi, namun miskin refleksi dan kedalaman.
Di lain hal, eksploitasi alam atas nama pembangunan terus terjadi. Krisis ekologis, perubahan iklim, kerusakan hutan, hingga pencemaran lingkungan menunjukkan bahwa manusia modern sedang mengalami krisis relasi dengan kosmos. Alam dipaksa tunduk pada logika produksi dan konsumsi tanpa batas.
Pascalianus Arki Banunaek
Opini - Ketika Teknologi Menguasai Kosmos
Martin Heidegger
kosmos
POS-KUPANG.COM
| Opini - Digitalis Humanitas dan Kearifan Lokal NTT di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Opini: Kekuatan Narasi Digital- Pesta Babi dan Perebutan Pengaruh Setelahnya |
|
|---|
| Opini: Di Balik Turunnya NPL- Sinyal Risiko Kredit Bank NTT |
|
|---|
| Opini - Membaca Kasus Pantai Binongko Labuan Bajo dengan Kacamata Cleanthes |
|
|---|
| Opini: Mencari Makna Hidup di Tengah Semesta yang Terus Berevolusi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pascalianus-Arki-Baunanek-ok.jpg)