Opini
Opini: Krisis Pendidikan dan Hilangnya Martabat Manusia
Masalah pendidikan tidak pernah berdiri sendiri; ia adalah gambaran dari relasi sosial, politik, ekonomi, dan moral masyarakatnya.
Oleh: Sirilus Aristo Mbombo
Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang – Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Pendidikan adalah jantung peradaban. Dari denyutnya, kita dapat membaca sehat atau rapuhnya masa depan suatu bangsa.
Indonesia, sebagai bangsa yang lahir dari cita-cita mencerdaskan kehidupan bersama, hingga kini masih bergulat dengan persoalan pendidikan yang kompleks dan berlapis.
Masalah pendidikan tidak pernah berdiri sendiri; ia adalah gambaran dari relasi sosial, politik, ekonomi, dan moral masyarakatnya.
Pada dasarnya memahami pendidikan Indonesia tidak cukup dengan pendekatan teknis semata, melainkan membutuhkan refleksi filosofis yang mendalam, jujur, dan penuh kebijaksanaan.
Baca juga: Opini: Satu Hari untuk Guru
Salah satu persoalan paling mendasar dalam pendidikan Indonesia adalah kualitas dan kesejahteraan guru.
Guru bukan sekadar penyampai kurikulum, melainkan pembentuk jiwa dan karakter manusia.
Aristoteles pernah menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang berbudi luhur, bukan sekadar cerdas secara intelektual.
Namun bagaimana mungkin guru dapat menjalankan peran luhur ini jika kesejahteraannya diabaikan?
Guru yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi berisiko kehilangan ruang batin untuk refleksi, pengembangan diri, dan kreativitas pedagogis.
Ketika profesi guru tidak dimuliakan secara struktural, maka pendidikan mudah tergelincir menjadi rutinitas administratif tanpa jiwa.
Masalah ini diperparah oleh keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan.
Sekolah-sekolah di banyak wilayah Indonesia masih berjuang dengan ruang kelas rusak, minimnya akses teknologi, dan fasilitas belajar yang tidak manusiawi.
Dalam pandangan John Dewey, lingkungan belajar adalah bagian integral dari proses pendidikan.
Ruang yang tidak layak bukan hanya menghambat pembelajaran, tetapi juga menyampaikan pesan simbolik kepada siswa bahwa pengetahuan tidak dianggap penting.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sirilus-Aristo-Mbombo1.jpg)