Opini
Opini: Bunyi dan Hening
Pelajaran mengenai pentingnya ritme dan jeda sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Etika Perhatian Digital bagi Ketangguhan Sosial Masa Depan
Oleh: Bernabas Unab
Penggiat Filsafat
POS-KUPANG.COM - Di banyak tempat di Timor, senja memiliki iramanya sendiri. Aktivitas perlahan mereda, angin berembus di antara hamparan sabana, dan suara-suara yang sejak pagi memenuhi ruang mulai berkurang.
Tidak selalu ada percakapan. Tidak selalu ada musik. Kadang hanya ada keheningan yang sederhana.
Namun justru dalam suasana seperti itulah orang dapat merasakan sesuatu yang semakin langka pada zaman ini: perhatian yang utuh.
Keheningan semacam itu tidak pernah benar-benar kosong. Ia memberi ruang bagi manusia untuk mengingat kembali apa yang telah dikerjakan sepanjang hari, memikirkan persoalan yang sedang dihadapi, atau sekadar menikmati kehadiran orang-orang di sekitarnya.
Di sana, manusia masih memiliki kesempatan untuk mendengar suara angin, suara alam, suara sesama, dan suara dirinya sendiri.
Baca juga: Opini: Negara Beradat, Adat Bernegara
Pengalaman tersebut terasa semakin jauh dari kehidupan modern. Kini hampir tidak ada ruang yang benar-benar sunyi.
Telepon pintar berdering, notifikasi media sosial muncul tanpa henti, pesan instan datang silih berganti, dan berbagai platform digital terus berlomba menarik perhatian pengguna.
Bahkan ketika tidak ada suara, layar yang menyala seolah tetap memanggil kita untuk kembali melihat, membaca, dan merespons.
Akibatnya, perhatian menjadi sesuatu yang semakin langka. Kita mungkin terhubung dengan ratusan bahkan ribuan orang melalui dunia digital, tetapi semakin sulit hadir sepenuhnya pada satu percakapan, satu pekerjaan, atau satu momen bersama keluarga.
Kita membaca sambil membuka media sosial, bekerja sambil memeriksa pesan, dan berbicara sambil sesekali melihat layar telepon genggam. Tubuh berada di satu tempat, tetapi perhatian telah berpindah ke tempat lain.
Di balik perubahan kebiasaan tersebut, sesungguhnya sedang terjadi persoalan yang lebih mendasar, yaitu krisis perhatian. Perhatian sering dipahami sekadar sebagai kemampuan untuk fokus atau berkonsentrasi.
Padahal perhatian merupakan fondasi bagi hampir seluruh aktivitas manusia. Kita belajar melalui perhatian. Kita membangun hubungan melalui perhatian.
Kita memahami orang lain melalui perhatian. Bahkan kemampuan untuk mengambil keputusan yang baik juga bergantung pada kemampuan memberi perhatian secara utuh.
Krisis perhatian menjadi tantangan yang tidak boleh diremehkan, terutama ketika Indonesia sedang memasuki era transformasi digital dan bersiap menyongsong bonus demografi 2045. Pada saat itu, jumlah penduduk usia produktif akan mencapai puncaknya.
| Opini - Ketika Tobat Menjadi Viral: Membaca Pengakuan Dosa Terbuka dalam Terang Teologi Pembebasan |
|
|---|
| Opini: Ketika Jepang Menyamai Belanda dan Mengingatkan Indonesia |
|
|---|
| Opini: Negara Beradat, Adat Bernegara |
|
|---|
| Opini: Menakar Gengsi dan Investasi- Dilema Orang Tua dalam Memilih Kampus |
|
|---|
| Opini: Curaçao Sudah Sampai, Indonesia Kapan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Bernabas-Unab.jpg)