Rabu, 17 Juni 2026

Opini

Opini: Bunyi dan Hening

Pelajaran mengenai pentingnya ritme dan jeda sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI BERNABAS UNAB
Bernabas Unab 

Etika Perhatian Digital bagi Ketangguhan Sosial Masa Depan

Oleh: Bernabas Unab
Penggiat Filsafat

POS-KUPANG.COM - Di banyak tempat di Timor, senja memiliki iramanya sendiri. Aktivitas perlahan mereda, angin berembus di antara hamparan sabana, dan suara-suara yang sejak pagi memenuhi ruang mulai berkurang. 

Tidak selalu ada percakapan. Tidak selalu ada musik. Kadang hanya ada keheningan yang sederhana. 

Namun justru dalam suasana seperti itulah orang dapat merasakan sesuatu yang semakin langka pada zaman ini: perhatian yang utuh.

Keheningan semacam itu tidak pernah benar-benar kosong. Ia memberi ruang bagi manusia untuk mengingat kembali apa yang telah dikerjakan sepanjang hari, memikirkan persoalan yang sedang dihadapi, atau sekadar menikmati kehadiran orang-orang di sekitarnya. 

Di sana, manusia masih memiliki kesempatan untuk mendengar suara angin, suara alam, suara sesama, dan suara dirinya sendiri.

Baca juga: Opini: Negara Beradat, Adat Bernegara

Pengalaman tersebut terasa semakin jauh dari kehidupan modern. Kini hampir tidak ada ruang yang benar-benar sunyi. 

Telepon pintar berdering, notifikasi media sosial muncul tanpa henti, pesan instan datang silih berganti, dan berbagai platform digital terus berlomba menarik perhatian pengguna. 

Bahkan ketika tidak ada suara, layar yang menyala seolah tetap memanggil kita untuk kembali melihat, membaca, dan merespons.

Akibatnya, perhatian menjadi sesuatu yang semakin langka. Kita mungkin terhubung dengan ratusan bahkan ribuan orang melalui dunia digital, tetapi semakin sulit hadir sepenuhnya pada satu percakapan, satu pekerjaan, atau satu momen bersama keluarga. 

Kita membaca sambil membuka media sosial, bekerja sambil memeriksa pesan, dan berbicara sambil sesekali melihat layar telepon genggam. Tubuh berada di satu tempat, tetapi perhatian telah berpindah ke tempat lain.

Di balik perubahan kebiasaan tersebut, sesungguhnya sedang terjadi persoalan yang lebih mendasar, yaitu krisis perhatian. Perhatian sering dipahami sekadar sebagai kemampuan untuk fokus atau berkonsentrasi. 

Padahal perhatian merupakan fondasi bagi hampir seluruh aktivitas manusia. Kita belajar melalui perhatian. Kita membangun hubungan melalui perhatian. 

Kita memahami orang lain melalui perhatian. Bahkan kemampuan untuk mengambil keputusan yang baik juga bergantung pada kemampuan memberi perhatian secara utuh.

Krisis perhatian menjadi tantangan yang tidak boleh diremehkan, terutama ketika Indonesia sedang memasuki era transformasi digital dan bersiap menyongsong bonus demografi 2045. Pada saat itu, jumlah penduduk usia produktif akan mencapai puncaknya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
Live
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
VS
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved