Opini
Opini: Indonesia Emas dan Produksi Kecemasan Nasional
Negara maju lahir dari institusi yang inklusif, akuntabel, dan mampu membatasi penyalahgunaan kekuasaan.
Oleh: Heryon Bernard Mbuik
Akademisi dan Peneliti Kebijakan Publik, tinggal di Kupang.
POS-KUPANG.COM - Indonesia sedang mabuk optimisme. Dari ruang-ruang birokrasi hingga podium politik, narasi Indonesia Emas 2045 terus dikumandangkan sebagai janji kolektif menuju negara maju.
Bonus demografi, hilirisasi industri, transformasi digital, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan infrastruktur dipresentasikan sebagai fondasi kokoh bagi kebangkitan Indonesia pada usia satu abad kemerdekaannya.
Narasi tersebut tentu menarik. Tidak ada bangsa yang dapat bergerak maju tanpa imajinasi tentang masa depan.
Namun sejarah politik mengajarkan satu pelajaran penting: semakin besar sebuah janji politik, semakin besar pula kebutuhan untuk mengujinya secara kritis.
Karena itu, pertanyaan yang patut diajukan bukanlah apakah Indonesia memiliki visi besar.
Baca juga: Opini: Bunyi dan Hening
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah Indonesia sedang bergerak menuju Indonesia Emas atau justru sedang memproduksi Indonesia Cemas?
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dari euforia slogan dan melihat kenyataan secara lebih jernih.
Indonesia memang mencatat berbagai kemajuan. Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa tingkat kemiskinan nasional pada September 2025 turun menjadi 8,25 persen, angka terendah dalam sejarah Indonesia modern.
Rasio Gini juga menunjukkan perbaikan menjadi 0,363 yang mengindikasikan menurunnya ketimpangan pengeluaran (BPS, 2026). Di atas kertas, data tersebut menunjukkan bahwa pembangunan berjalan ke arah yang positif.
Namun pembangunan tidak hanya hidup di atas kertas. Pembangunan hidup dalam pengalaman sehari-hari warga negara. Ia hadir dalam kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pembangunan terlihat dalam akses terhadap pekerjaan yang layak, pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan yang terjangkau, serta harapan bahwa masa depan akan lebih baik dibanding hari ini.
Persoalannya, di tengah berbagai capaian statistik tersebut, kecemasan sosial justru semakin terasa.
Anak-anak muda yang menyelesaikan pendidikan tinggi tidak otomatis memperoleh pekerjaan yang layak. Kelas menengah yang selama dua dekade menjadi motor konsumsi nasional mulai merasakan tekanan ekonomi yang tidak ringan.
Harga kebutuhan hidup terus meningkat, sementara kemampuan ekonomi sebagian rumah tangga tidak bertumbuh pada kecepatan yang sama.
Heryon Bernard Mbuik
Menuju Indonesia Emas
Indonesia Emas
Opini Pos Kupang
Pengamat Kebijakan Publik
Meaningful
| Opini: Bunyi dan Hening |
|
|---|
| Opini - Ketika Tobat Menjadi Viral: Membaca Pengakuan Dosa Terbuka dalam Terang Teologi Pembebasan |
|
|---|
| Opini: Ketika Jepang Menyamai Belanda dan Mengingatkan Indonesia |
|
|---|
| Opini: Negara Beradat, Adat Bernegara |
|
|---|
| Opini: Menakar Gengsi dan Investasi- Dilema Orang Tua dalam Memilih Kampus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Heryon-Bernard-Mbuik.jpg)