Opini
Opini: Manusia Pasca-perhatian
Krisis perhatian ini diperparah oleh hegemoni masyarakat transparansi yang pornografis. Transparansi menghilangkan batas jarak pelindung jiwa.
Oleh: Melki Deni, S. Fil.
Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol.
POS-KUPANG.COM - Kemanusiaan kontemporer tidak hanya sedang berada dalam ancaman tirani eksternal yang koersif, tetapi juga tengah melenyap dalam sebuah kamp konsentrasi sukarela di mana kebebasan telah bermutasi menjadi instrumen eksploitasi diri yang paling brutal melalui likuidasi perhatian radikal.
Tesis dasar tulisan ini adalah krisis perhatian global yang bermanifiestasi dalam patologi sosial seperti depresi, bunuh diri, aborsi, hingga perbudakan seksual, bukanlah sekadar kegagalan sistemik sosiopolitik, krisis norma-norma budaya, atau krisis nilai-nilai keagamaan.
Semua itu merupakan sebuah bencana ontologis akibat pengabaian terhadap kemuliaan manusia, tubuhnya, keberadaannya, dan makna kematiannya demi pemujaan terhadap positivitas modal.
Baca juga: Opini: Seni Mencintai Gaya Filsafat Antik
Akar dari krisis ini terletak pada kapitalisme yang menciptakan masyarakat kinerja yang menuntut transparansi yang pornografis, vulgar, provoktaif, dan kompetitif.
Byung-Chul Han menegaskan bahwa subjek kinerja modern bukan lagi seseorang “subjek ketaatan” dalam paradigma Michel Foucault, melainkan seorang “wirausahawan bagi dirinya sendiri” yang mengeksploitasi dirinya sendiri secara sukarela hingga titik nadir psikis (Byung-Chul Han, The Burnout Society, Stanford: Stanford University Press, 2015.).
Di bawah diktat perintah “Kamu bisa” yang tanpa kendali, manusia terjebak dalam siklus produksi dan reproduksi yang menghancurkan “waktu naratif”, yakni waktu yang memungkinkan durasi dan pendalaman makna atas pengalaman-pengalaman yang berantakan dan persoalan-persoalan serius baik politik, ekonomi, agama, budaya maupun pendidikan (Byung-Chul Han, Capitalism and the Death Drive, Cambridge: Polity Press, 2021, hlm. 30).
Hannah Arendt menyebut kondisi ini sebagai kemenangan animal laborans, di mana manusia direduksi menjadi makhluk yang hanya bekerja untuk hidup dan hidup untuk bekerja, terjebak dalam metabolisme biologis yang sia-sia tanpa mampu untuk melakukan “aksi” politik yang bermakna secara eksistensial (Hannah Arendt, La condición humana, Barcelona: Paidós, 2009.).
Tekanan untuk berprestasi menciptakan “infark” psikis; ketika subjek tidak lagi “bisa”, ia hancur dalam auto-agresi yang berujung pada depresi berat dan, dalam titik ekstremnya, bunuh diri sebagai salah satu jalan keluar dari penjara performa (Byung-Chul Han, The Burnout Society).
Krisis perhatian ini diperparah oleh hegemoni masyarakat transparansi yang pornografis. Transparansi menghilangkan batas “jarak pelindung” jiwa.
Jiwa manusia membutuhkan ruang rahasia untuk bertumbuh dan bekerja dengan maksimal, namun masyarakat transparansi memaksa segalanya diekspos secara visual-pornografis, vulgar-sensual dan provokatif, yang mengakibatkan jiwa letih karena paparan berlebihan di tengah tuntutan prestasi.
Han berpendapat bahwa transparansi adalah muslihat neoliberalisme yang menelanjangi segala sesuatu untuk diubah menjadi informasi dan data yang dapat diperjualbelikan (Byung-Chul Han, Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power, London: Verso, 2017).
Dalam dunia digital yang serba bebas terbuka dan telanjang, rahasia, jarak kritis, dan misteri keindahan tubuh manusia dianggap sebagai hambatan bagi sirkulasi modal.
Akibatnya, jiwa manusia letih karena paparan total yang bersifat pornografis, kehilangan “jarak pelindung” yang diperlukan untuk pertumbuhan interioritas (Byung-Chul Han, Capitalism and the Death Drive).
Tanpa ruang pelindung ini, manusia mengalami hiperestimulasi yang merusak kemampuan untuk sabar, iba, belas kasihan, dan berkontemplasi.
| Opini: Seni Mencintai Gaya Filsafat Antik |
|
|---|
| Opini: Vozinha dari Cape Verde dan Malam Ketika Dunia Berhenti Memercayai Statistik |
|
|---|
| Opini: Magnifica Humanitas, Kemanusiaan yang Agung |
|
|---|
| Opini - Praksis Pembebasan dan Inkulturasi Sejati Gereja Katolik di NTT |
|
|---|
| Opini: Indonesia Emas dan Produksi Kecemasan Nasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Melki-Deni1.jpg)